Ribuan Warga Ikrar Jaga Pemilu Damai

SEMARANG (Asatu.id) – Ribuan warga dan ulama dari berbagai daerah di Pulau Jawa berikrar menjaga pelaksaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 damai dan lancar. Ikrar yang dipimpin Habib Luthfi bin Yahya tersebut diserukan di sela peringatan Isra Mi’raj sekaligus doa bersama TNI/Polri, ulama dan masyarakat dalam rangka Pemilu 2019 damai, di Lapangan Pancasila (Simpanglima), Jumat (12/4) malam lalu.

Selain ribuan warga dari berbagai daerah hadir pula para ulama dari Jateng, Jabar, Jatim, dan DIY. Antara lain KH Maimoen Zubair dan Habib Luthfi Bin Yahya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, serta Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, dan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti.

Seluruh peserta doa bersama secara kompak menirukan janji yang disampaikan Habib Luthfi. Pekikan ikrar yang diucapkan ribuan warga dan ulama dari berbagai daerah di Pulau Jawa itu, menggema di jantung Kota Semarang.

“Wahai rakyat Indonesia, relakah bangsamu terpecah belah. Kita tidak akan memberikan kesempatan kepada oknum-oknum yang akan memecah belah Indonesia. Kalau perlu kita ikrar bersama,” ujar Habib Luthfi Bin Yahya saat menyampaikan tausiah kebangsaan.

Pengucapan ikrar yang diawali pembacaan syahadat itu berbunyi “Kami bersyukur mempunyai Tanah Air Indonesia, kami bangga menjadi warga Indonesia, kami bangga menjadi putra putru Infonesia, bagi kami NKRI harga mati bukan basa-basi, kami berjanji menjaga keutuhan NKRI dan kami berjanji menjaga Pemilu Presiden damai.”

Habib Luthfi Bin Yahya dalam tausiah kebangsaannya meminta semua komponen bangsa menjaga keutuhan NKRI. Jangan memberikan kesempatan kepada oknum-oknum yang akan memecah belah umat dan bangsa, masyarakat dibenturkan, ulama dan kiai diadu domba.

“Kita tidak boleh bertutur kata dan berprasangka jelek kepada siapapun. Mulut harus selalu bercermin kepada Rasulullah sehingga selalu berprasangka baik terhadap siapapun, bahkan menutupi aib saudara sendiri,” pintanya.

Selain menjaga mulut, telinga pun harus mempunyai filter dan selalu bercermin kepada Nabi Muhammad. Sehingga indera pendengar tidak mudah menerima suara-suara yang tidak bisa dipertanggjawabkan kebenarannya, fitnah, ujaran kebencian yang akan memecah belah bangsa kemudian bangsa lain berkesempatan bertepuk dan negara ini menjadi terbagi-bagi.

“Jika kita mengikuti Rasulullah maka dengan saudara sebangsa dan se-Tanah Air, tidak akan tega melihat kesengsaraan ataupun membuka aib saudara sendiri,” bebernya.

Senada, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono dalam sambutannya juga meminta semua komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kerukunan, kedamaian, dan persatuan agar Jateng yang sudah adem ayem tetap sejuk. Terutama pada masa Pemilu Legislatif dan Pilpres yang pelaksanaannya tinggal hitungan hari.

“Pada Pilkada serentak kemarin, yaitu pemilihan gubernur dan wakil gubernur, Jateng tetap sejuk. Kita lima hari lagi menghadapi Pemilu untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik, sehingga jangan sampai memecah belah kita,” katanya.

Menurutnya, beda pilihan itu biasa, namun jangan sampai memutus tali silaturahmi. Meskipun di media sosial marak bertebaran hoaks, ujaran kebencian dan fitnah, warga diharapkan tetap menjaga Jateng, Jabar, DIY, Jakarta, serta seluruh provinsi di Nusantara aman dan damai.

Suasana damai dan khidmat semakin terasa ketika alunan gending khas Jawa berpadu dengan rebana terdengar syahdu mengiringi selawatan menyambut kehadiran para ulama, pejabat dan tokoh masyarakat di panggung utama. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *