31 Tahun Mengabdi, Suyatmi Bahagia Terima Insentif dari Pemprov Jateng

GROBOGAN (Asatu.id) – Rona bahagia terpancar dari wajah Suyatmi. Warga Kecamatan Purwodadi yang telah mengabdikan diri sebagai guru TPQ NU Nglejok sejak tahun 1988 silam itu, baru saja menerima bantuan insentif guru keagamaan atau guru ngaji dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang diserahkan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen di Pondok Pesantren (Ponpes) Riyadlotut Tholibin, Ngrebo, Kedungrejo, Kabupaten Grobogan, Sabtu (13/4).

“Saya senang sekali teman-teman guru ustaz/ustazah mendapat bantuan semua. Mudah-mudahan ke depan terus mendapat bantuan insentif itu dan barokah untuk kita semua,” ujarnya dengan senyum semringah, saat menghadiri acara Silaturahmi Wakil Gubernur Jawa Tengah dengan Ustaz/Ustazah Kabupaten Grobogan Tahun 2019.

Sumiyati adalah salah seorang dari 9.762 orang guru ngaji di Kabupaten Grobogan yang mendapat insentif tersebut pada tahun 2019.

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Ponpes Kanwil Kemenag Provinsi Jateng, Nur Abadi menjelaskan, pada 2019 tercatat sebanyak 171.131 orang guru ngaji di Jateng mendapatkan insentif. Pada 2020 jumlahnya akan bertambah menjadi 200.000 orang yang akan menerima bantuan itu. Khusus di Kabupaten Grobogan, juga ada penambahan jumlah penerima.

“Untuk Kabupaten Grobogan, yang semula hanya 9.762 orang guru keagamaan melonjak menjadi 11.726 ustaz/ustazah,” kata Nur Abadi.

Wagub Taj Yasin menjelaskan, bantuan insentif itu diberikan kepada guru Madrasan Diniyah (Madin), TPQ, dan ustaz/ ustazah sebagai wujud apresiasi atas perjuangan mereka dalam mengajarkan ilmu agama dan mendidik karakter anak bangsa. Anggaran sebesar Rp205,35 miliar dialokasikan Pemprov Jateng untuk memberikan bantuan kepada 171.131 orang guru ngaji se-Jateng pada tahun ini.

“Insya Allah per tiga bulan ditransfer wonten rekening panjenengan masing-masing,” jelasnya.

Gus Yasin, sapaan akrab wagub, menjelaskan, dia diberi amanah oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk mengawal pendataan guru ngaji secara valid. Putera ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu berpendapat, keberadaan guru ngaji ibarat benteng bagi generasi muda. Melalui pendidikan budi pekerti luhur yang diberikan, generasi muda siap menghadapi ancaman radikalisme, terorisme, maraknya ujaran kebencian, berita bohong dan fitnah yang marak terjadi belakangan ini.

“Menika tali asih kagem guru ustaz-ustazah amargi panjenengan sampun ngajaraken kawula lan (Ini tali asih untuk ustaz/ustazah karena Anda telah mengajarkan kami dan) putra-putri Indonesia bahwa pendidikan karakter niku(itu) sangat penting. Amargi Indonesia sakmenika taksih perang. Mboten kaliyan penjajah, nanging kaliyan fitnah, hoaks, radikalisme, lan terorisme (Sebab, Indonesia saat ini masih perang. Bukan dengan penjajah, tapi dengan fitnah, hoaks, radikalisme dan terorisme),” ujarnya.

Mantan anggota DPRD Provinsi Jateng itu menambahkan, selain bantuan insentif untuk guru ngaji, pada kesempatan itu juga diberikan apresiasi kepada para santri yang mampu menghafal Alquran. Ada pula program ekonomi pesantren (ekotren) agar pondok-pondok pesantren dapat mengembangkan jiwa wirausaha santri sekaligus menumbuhkan ekonomi di lingkungan Ponpes. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *