Kenduren 19 Tumpeng Warga Banyumas, Doa Bersama untuk Tanah Air

BANYUMAS (Asatu.id) – Masyarakat Banyumas punya cara tersendiri untuk mendoakan Bangsa Indonesia agar tetap diberkahi ketenteraman dan kerukunan menjelang pemilihan umum (Pemilu). Mereka menggelar Kenduri, “Kepungan Wonge Dewek, Eling-eling Sapa Eling Balio Maning”, di Bumi Perkemahan Kendalisada, Kalibagor, Banyumas, Senin (8/4).

Selepas zuhur, ratusan masyarakat Banyumas berkumpul di tempat itu. Mereka menikmati pertunjukan kesenian tradisional, Ebeg atau kuda lumping, tembang hingga Gending Jawa Gagrag Banyumasan. Selain itu, mereka juga makan bersama kepungan 19 tumpeng, serta berebut satu gunungan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, pada level akar rumput, masyarakat selalu memiliki cara tepat ketika mengungkapkan kecintaannya pada Tanah Air.

“Ini bagian sentuhan masyarakat di tingkat akar rumput yang mengungkapkan perasaan secara kolektif. Sehingga, proses politik di Indonesia ini menghasilkan pemimpin yang baik, tidak gontok-gontokan. Saya rasa itu Indonesia banget,” kata Ganjar.

Dengan kepungan atau kenduren itu, diharapkan sikap peduli dan gotong royong akan terus dirawat. Karena menurut Ganjar, budaya jadi tameng yang tepat bagi bangsa, yang bukan hanya dijaga tapi harus dikembangkan.

“Ini luar biasa inisiatif masyarakat Banyumas yang punya ide genuine dan sangat mengutamakan kearifan lokal. Mereka doa bersama, tumpeng yang ada semua dari masyarakat yang menginginkan kebaikan di bumi Indonesia. Dan mereka sangat ngajeni perbedaan yang ada yang kemudian disajikan dalam bentuk kultural,” ujar mantan anggota DPR RI ini.

Ditambahkan, acara tersebut menghadirkan tumpeng sebagai simbolisasi inti yang merupakan akronim dari tumuju ing Pengeran (menuju Tuhan). Bentuk tumpeng yang dibuat mengerucut, merupakan simbolisasi menuju Tuhan. Sementara, alas untuk menempatkan tumpeng disebut takir, akronim dari nata pikir atau menata pikiran. Intinya, masyarakat menginginkan hidup guyub, rukun, serta gotong royong.

“Budaya seperti ini banyak banget, bukan hanya diuri-uri tapi dikembangkan. Saya sudah mengikuti di Temanggung, Magelang, Pantura juga terjadi, Solo juga. Jadi menarik ada wilayah gunungnya, ada wilayah perkotaan, di pantainya. Ini bagian dari yang Indonesia banget, Jawa Tengah banget. Yang sangat menjunjung kebudayaan yang dimiliki,” papar gubernur.

Acara tersebut mendapat apresiasi warga. Mereka pun tumpah ruah, menikmati hiburan dan santapan yang semakin istimewa dengan lauk ingkung ayam.

Mukinah, warga Sudagaran RT05 RW01 Banyumas, salah satunya. Dia merasa sangat bersyukur meski hanya mendapat satu puluk atau satu kepal nasi dan beberapa sayuran dari gunungan.

“Nasi yang saya makan dan sayuran yang ada di sini tadi kan semua sudah di doakan. Harapannya ya semoga membawa keberkahan dan ketenteraman,” kata Mukinah.

Dia datang bersama dua anaknya serta beberapa tetangganya. Ebeg, tembang, Gending Gagrag Banyumasan dan tumpeng baginya adalah hal yang biasa dia temukan. Namun yang membuat Mukinah semangat datang adalah karena kehadiran tokoh dari berbagai agama, Bupati Banyumas serta Gubernur Ganjar Pranowo.

“Bisa makan bareng Pak Bupati dan Pak Gubernur kan kesempatan langka. Jadi kami sangat semangat untuk datang,” tandasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *