Terdakwa Kasus Korupsi Mading Kabupaten Kendal Muryono Ungkap Dua Sosok yang Memiliki Peran Besar dalam Kasus Tersebut

Suasana Sidang Lanjutan tindak pidana korupsi proyek mading Kabupaten Kendal, yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (8/4)

SEMARANG (Asatu.id) – Terdakwa kasus korupsi proyek majalah dinding (mading) elektronik Kabupaten Kendal, Muryono menyebut ada dua sosok yang berperan besar dalam kasus ini, Lutfi Irdiansyah yang merupakan adik Bupati Kendal, Mirna Annisa dan anggota DPRD Kabupaten Kendal, Rubiyanto.

Hal itu diungkapkan Muryono dalam sidang lanjutan tindak pidana korupsi proyek mading Kabupaten Kendal, yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (8/4), dengan agenda menghadirkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum.

Namun demikian, dalam sidang lanjutan tersebut, salah satu saksi kunci yakni Lutfi Irdiansyah tak hadir dalam dalam persidangan. Padahal dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Ari Widodo tersebut, Jaksa Penuntut Umum memanggil empat saksi, Lutfi Irdiansyah, mantan Sekda Kendal Bambang Dwiyono, Sekda Kabupaten Kendal, M Toha, dan anggota DPRD Kabupaten Kendal, Rubiyanto.  Namun hanya tiga saksi yang hadir, sementara Lutfi Irdiansyah tak datang untuk memberikan kesaksiannya.

Majelis hakim pun akhirnya memintai keterangan para saksi, Bambang Dwiyono dan M Toha dalam sidang yang menghadirkan para terdakwa.

Sementar saksi Rubiyanto dimintai keterangan terpisah bersama terdakwa yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal, Muryono saja. Dikarenakan, dari pengakuan Muryono, dia sempat dipanggil secara khusus oleh Rubiyanto dan Lutfi Irdiansyah sebelum menjalankan proyek ini.

Bahkan Muryono juga mengaku pernah diberi sejumlah uang dari Lutfi yang diserahkan oleh Junaedi, Kepala SD Surokonto Wetan 01, Kendal.

“Demi Allah, sebenarnya kami sudah mengajukan surat keberatan menjalankan proyek ini ke Bupati. Karena sudah menduga akan ada persoalan hukum di kemudian hari. Namun saya dipanggil Lutfi Irdiansyah dan Rubiyanto di suatu tempat, dan mereka meminta untuk saya melanjutkan proyek tersebut. Saya sebenarnya sudah menolak dengan bertanya apakah ada yang mau bertanggung jawab jika proyek itu nantinya jadi masalah hukum? Tapi memang akhirnya proyek tersebut berjalan,” kata Muryono dalam sidang tersebut.

Rubiyanto dalam kesaksiannya menolak pengakuan Muryono tersebut. Menurutnya dia tidak pernah meminta atau memaksa Muryono untuk menjalankan proyek itu.

“Itu tidak benar, tidak ada bukti,” katanya yang juga sempat dibantah kembali oleh Muryono bahwa pertemuan itu adalah fakta.

Sementara itu, Kuasa Hukum terdakwa Muryono, Henri Listiawan Nugroho mengatakan, untuk agenda siding berikutnya, pihaknya menginginkan saksi Lutfi Irdiansyah untuk dihadirkan bersama dengan saksi Rubiyanto.

“Harapan terdakwa, pada saat saksi lutfi dan Rubiyanto dihadirkan bersama bisa konfrontasi terkait dengan apa yang diingkari dari saksi Rubiyanto, bahwa tanggal 16 itu mereka tidak ketemu di Rumah Dinas Bupati Kendal.  Sedangkan pada keterangan terdakwa sudah jelas, bahwa terdakwa berkirim surat

kepada Bupati Kendal melalui nota keberatan, terhadap pengadaan madding elektronik karen waktunya yang sudah terlalu mepet,” katanya.

Namun demikian, lanjut Henri, nota keberatan tersebut tidak ditanggapi oleh Bupati Kendal Mirna Annisa.

“Tetapi malah saudara Rubiyanto mengundang saudara Muryono untuk dating ke Rumah Dinas Bupati . lha disitu ada saudara lutfi juga,” ungkapnya.

Sebagai informasi, dalam kasus mading ini tim jaksa penuntut umum dari Kejari Kendal telah menyeret tiga pejabat terkait yang kini sudah ditetapkan sebagai terdakwa.

Ketiga terdakwa tersebut yakni Mantan Kepala Dinas Pendidikan Muryono, Direktur CV Karya Bangun Sejati Lukman Hidayat, dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Agung Markiyanto. Ketiganya didakwa merugikan negara Rp 4,4 miliar dari nilai proyek sekitar Rp 6 miliar.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *