Geng Nyincing Daster, Komunitas Literasi yang Getol Menulis Buku

SEMARANG (Asatu.id) – Manfaatkan ruang media sosial (medsos) Komunitas Literasi dan Sastra “Nyincing Daster Club” berhasil menjadikan medsos sebagai perangkat teknologi yang mendukung sebagai ruang imajinasi dan inspirasi untuk berkarya.

Sebanyak tujuh orang dari berbagai latar belakang berkumpul dan berkomitmen untuk mengupas, mengasah, berbagai peristiwa ke dalam bentuk penulisan sastra puisi maupun cerpen secara konsisten. Di sela-sela kesibukan aktivitas masing-masing, mereka memasang deadline produksi tulisan rutin setiap dua minggu.

Sejak berdiri 27 Februari 2017 silam, komunitas ini telah melahirkan buku antologi sastra cerpen dan puisi berjudul “Syak Merah Jambu”. Ketujuh punggawa dalam komunitas ini adalah Vika Aditya, Susi Haryani, Irza Khurun’in, Geriel Farah, Galuh Sitra, Gusti Hasta, dan Endro Gusmoro.

“Kami terinspirasi semangat kata-kata Pramoedya Ananta Toer bahwa ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian’,” kata salah satu anggota Geng Nyincing Daster, Gusti Hasta, Minggu (7/4).

Bagi mereka, menulis menjadi salah satu aktivitas untuk mengabadikan nilai kehidupan manusia secara artistik dan imajinatif. Sudah memiliki karir lantas bukan berarti mereka meninggalkan hobinya, yakni menulis.

“Ketidaksengajaan yang mempertemukan kami di platform media sosial. Semula tidak saling mengenal hingga akhirnya terbentuklah komunitas ini,” katanya.

Mengapa komunitas ini dinamai Nyincing Daster Club? Gusti Hasta menjelaskan istilah itu muncul secara alami dalam komunikasi harian antara sesama anggota melalui grup WhatsApp (WA).

Dalam kebiasaan perempuan Jawa, saat buru-buru dalam aktivitas, seringkali ditemui “nyincing daster”. Daster adalah gaun perempuan yang sengaja didesain longgar dan biasanya dipakai di rumah. Hal itu sering menjadi candaan ketika anggota komunitas ini diburu deadline. Saat ditagih untuk menyetorkan tulisan, dijawab “tak nyincing daster sik” (mengangkat daster dulu).

“Nyincing Daster berasal dari Bahasa Jawa ‘Nyincing’ yang memiliki arti ‘mengangkat’. Sedangkan Daster merepresentasikan perempuan. Nyincing Daster dalam istilah kami bisa juga diartikan sebagai upaya saling mendukung, saling mensupport di antara para anggota. Daster sendiri juga diidiomkan sebagai darling sister,” bebernya.

Karya buku sastra pertama dari Geng Nyincing Daster ini diberi judul “Syak Merah Jambu”. Dikatakan Gusti, buku perdana ini sebagai cara dan upaya untuk merawat ingatan.

“Mengupas manusia dari segala sisi dan sudut pandang, berkisah tentang cinta dan segala sebab akibat yang ditimbulkannya, bercerita tentang isu-isu perempuan seperti buruh migran perempuan, aborsi yang semakin marak, dan juga mengenai kejadian 1998 yang dikemas dengan cinta,” bebernya.

Mereka beranggapan, bahwa komunitas ramping ini efektif menjadi ruang berproses dalam mengekspresikan setiap pemikiran ke dalam bentuk tulisan.

“Kami memilih untuk mengabadikan setiap pemikiran ke dalam bentuk karya tulis sastra, alih-alih menyimpannya dalam kotak pandora. Syukur-syukur mampu turut berperan memberikan sumbangsih untuk kesusastraan Indonesia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata Gusti Hasta, hal yang jauh lebih penting lagi adalah bagaimana menyelamatkan generasi agar merawat budaya literasi.

“Budaya menulis dan membaca buku harus terus dirawat. Apalagi di era teknologi seperti saat ini, budaya membaca buku semakin tergerus,” ujar dara yang masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir UIN Walisongo Semarang ini.

Buku Syak Merah Jambu ini cukup mampu mengajak dan menginspirasi orang di sekitar untuk membaca buku. Sejak dilaunching pertama kali pada Maret 2018, buku ini telah dilakukan dua kali proses pencetakan. Hingga saat ini sedikitnya telah terjual 700 eksemplar. Komunitas ini juga melakukan kegiatan tour lintas kota dengan diisi konser mini, bedah buku, sekaligus launching dan pembacaan karya.

“Kami juga menggandeng sejumlah komunitas musik, teater dan sastra untuk menggelar pertunjukan mini konser. Di antaranya kami helat di Yogyakarta dan Kediri, beberapa waktu lalu. Insyaallah, akhir April 2019 ini, kami launching buku kedua “Matra Rana” akhir april ini,” ujarnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *