GSPI Dekatkan Pemuda pada Persoalan Bangsa 

GSPI Dekatkan Pemuda pada Persoalan Bangsa SEMARANG (Asatu.id) – Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Nyoman Shuida, mengatakan penyelenggaraan kegiatan Gladian Sejarah Pemuda Indonesia (GSPI) yang berlangsung di Kota Semarang, bertujuan untuk mendekatkan para pemuda pada persoalan bangsa. Sehingga mereka dapat ikut mencari solusinya.

“Kami undang pemuda dari 34 provinsi dan dari Jawa Tengah, untuk mengenal budaya masing masing agar berkarakter, nasionalis dan berbudaya. Kita melihat sekarang problematika kita pada toleransi, hoaks, narkoba, dan lainnya yang menyangkut integritas,” terangnya saat pembukaan GSPI di Grhadhika Bhakti Praja, Kamis (4/4) kemarin

Diharapkan, setelah acara itu pemuda akan menjadi agen perubahan, menjadikan negara ini lebih baik. Mereka diharapkan membawa nilai-nilai pendidikan karakter, nilai kebudayaan, penguatan nasionalisme.

Nyoman menerangkan, selama empat hari para peserta GSPI tinggal di rumah penduduk, berinteraksi dengan warga sekitar. Mereka juga diajak ke tempat-tempat yang inspiratif.

Mengapa Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang yang dipilih menjadi tuan rumah? Menurut Nyoman, sejarah Jawa Tengah mewarnai kehidupan bangsa. Banyak tokoh nasional yang lahir di provinsi ini. Kelebihan lain, provinsi ini memiliki keragaman yang tinggi, respons pemerintah bagus, sehingga Jawa Tengah dinilai cocok menjadi pionir.

“Mereka diharapkan bisa bawa pesan-pesan yang khas remaja. Baik mengenai keberagaman, toleransi, hidup sehat, berkarakter, dan yang paling penting berbudaya,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengapresiasi kegiatan yang berlangsung di Kota ATLAS ini. Sebanyak 16 kecamatan dan 55 kelurahan telah disiapkan untuk aktivitas para pemuda itu. Mereka diharapkan bisa memanfaatkan waktu, melaksanakan program yang telah direncanakan bersama warga.

“Apalagi, warga di Kota Semarang ini beragam. Ada yang di pesisir, perkotaan, dataran tinggi, yang semuanya memiliki karakter dan kehidupan yang berbeda-beda. Saya berharap mereka bisa berinteraksi, memberikan pesan-pesan terhadap milenial di Kota Semarang,” tandas Wawali.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *