Isra’ Mi’raj Momentum Teladani Kisah Nabi Muhammad SAW

Isra' Mi'raj Momentum Teladani Kisah Nabi Muhammad SAWSEMARANG (Asatu.id) – KH. Drs. Fahrurozi, M.Ag, selaku penceramah menyampaikan bahwa melalui peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah shalat lima waktu.

Demikian dikatakannya saat peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW Tahun 1440 H/2019 M yang berlangsung di masjid Al Firdaus, komplek Makodam IV/Diponegoro.

Perintah salat dalam Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad kemudian menjadi ibadah bagi setiap umat Islam. Perintah salat mengajarkan kepada umat muslim pada kejujuran, kedisiplinan dan kesabaran. Selain itu, salat juga menebarkan kedamaian dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

“Bagaimana kita harus selalu jujur dalam setiap melaksanakan tugas, mengajarkan kedisiplinan yaitu kedisiplinan dalam bertugas, kedisiplinan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai masyarakat. Kesabaran bila mendapatkan musibah, kesabaran dalam berkarier dan kesabaran mendapatkan rejeki seseorang,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, dengan peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut juga kita dapat meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW dan selanjutnya diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang sederhana dan memiliki loyalitas yang tinggi. Tak hanya itu, sosok pendamping Nabi yang bernama Siti Khodijah adalah seorang perempuan yang patuh dan taat serta  setia mendampingi Nabi dimanapun berada. Siti Khodijah juga merupakan seorang wanita yang selalu bisa menjadi teman saat suaminya bahagia.

“Bisa menjadi penghibur disaat sang suami bersedih dan mampu menjadi penenang hati suami. Kehadirannya dalam kehidupan Nabi, dengan ketaatan dan kesetiaannya  mampu menguatkan perjuangan suami,” jelasnya.

Tak hanya itu, imbuh dia, walaupun Siti Khodijah seorang yang kaya raya namun tidak pernah sombong. Siti Khodijah tidak sungkan menghabiskan kekayaannya yang dimiliki untuk perjuangan Rasul.

Oleh sebab itu, Khadijah selalu ada di hati Rasulullah. Disaat Rasul menghadapi berbagai rintangan dalam berdakwah tidak pernah Khadijah sekalipun berpaling. Bahkan untuk mengecewakan hati Rasul saja, sekali pun tidak pernah.

Ditambahkan, bahwa rumah tangga Rasul yang dibangun bersama Khadijah adalah rumah tangga yang dipenuhi dengan perjuangan dan pengorbanan. Dinamika dakwah benar-benar hidup di dalamnya. Maka, wajar ketika ditinggal wafat Siti Khadijah, maka Rasul mengalami kesedihan yang sangat mendalam.

Dari kisah perjalanan Nabi Muhammad bersama Siti Khadijah, maka  KH. Drs. Fahrurozi, M.Ag, mengajak kepada para prajurit dan PNS Kodam IV/Diponegoro untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga dengan tetap loyal dan setia mendampingi suami/isteri dimanapun bertugas karena pendamping hidup akan memberikan kekuatan dalam kehidupan rumah tangga.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *