Komisi C DPRD Jateng Apresiasi Kontribusi PAD RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto

PURWOKERT0 (Asatu.id) – Komisi C DPRD Jateng mengapresiasi kinerja Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto yang berturut-turut mampu memberikan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) melebihi target yang dicanangkan.

“Kami sangat bangga atas kinerja RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto. Pada lima tahun terakhir ini, realisasi PAD-nya berkisar antara 106%-121% dari target. Kemampuan RSUD dalam memberikan PAD ini ini perlu diapresiasi,” kata Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto saat melakukan kunjungan kerja komisinya di instansi tersebut, Senin (18/3).

Menurut Bogi, sapaan akrab politisi PDI Perjuangan, pada tahun lalu (2018) RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto mampu merealiasi pendapatan sebesar Rp 378,19 miliar. Ini artinya, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jateng ini  merealiasasikan pendapatan sebesar 110 persen dari target.

Dia memaparkan rumah sakit ini memiliki pelayanan unggulan di bidang bedah saraf, penanganan penyakit jantung dan penurunan kematian ibu dan bayi. Dengan kelebihan tersebut, masyarakat Jateng di bagian Selatan tidak perlu lagi ke Rumah Sakit Sardjito (Yogyakarta) atau Kariadi (Semarang) lagi untuk berobat.

“Kalau sekadar bedah saraf maupun penyakit jantung, pasien cukup datang ke RSUD Prof Dr Margono saja. Rumah sakit ini  sudah didukung peralatan medis yang canggih,” ujarnya.

Sementara Anggota Komisi C Mustholih menyarankan kemampuan RSUD Prof Dr Margono ini dalam penanganan penyakit jantung dan bedah saraf ini perlu disosialisasikan ke masyarakat.

“Sosialisasi ini sangat penting agar masyarakat tidak perlu lagi bersusah payah ke luar Purwokerto untuk berobat. Sampai hari ini, masih ada warga Purwokerto yang belum tahu hal itu,” jelas politisi Partai Amanat Nasional itu. \

Direktur RSUD Prof Dr Margono Purwokerto, dr Haryadi Ibnu Junaedi mengakui dalam lima tahun terakhir ini rumah sakit yang dipimpinnya berhasil merealisasikan PAD melampaui target yang ditetapkan. Yakni sebesar 121% atau Rp 263,04 miliar (2014); 110% atau Rp 277,37 miliar (2015); 106% atau Rp 308,43 miliar (2016); 109% atau Rp 321,88 miliar (2017) dan terakhir tahun 2018 lalu 110% (Rp 378,19 miliar).

Adapun strategi yang ditempuh untuk  mencapai target pendapatan, tambahnya, antara lain dengan mengoptimalkan sistem teknologi informasi yang memudahkan sekaligus mengikat pasien untuk tidak mudah pindah ke rumah sakit lain. “Misalkan untuk kapan kontrol, kita bisa kasih informasi detil harinya kapan jam berapa harus datang dan dipastikan tidak perlu mengantri lama,” jelasnya.

Lainnya dengan memenuhi perlalatan kedokteran yang modern nan canggih untuk mendukung pelayanan sub spesialistik. “Juga dalam rekrutmen dokter dengan program monoloyalitas. Ini mengingat ketokohan seorang dokter itu ternyata bagus bagi pasien. Bahkan banyak pasien merasa nyaman dengan dokter tertentu. Tidak jarang pasien merasa sehat setelah ketemu dokternya,”  ujarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *