Anniversary 36th Grup OK Congrock 17 Padukan Musik Kroncong dengan Rock

SEMARANG (Asatu.id) – Rayakan Anniversary 36th Grup OK Congrock 17 menggelar pagelaran musik di panggung hiburan Taman Indonesia Kaya, Mugassari, Semarang Selatan, Sabtu (16/3) malam.

Dalam gelaran tersebut, Grup Orkes Keroncong (OK) Congrock 17 berhasil mengubah stigma masyarakat yang menilai bahwa musik bergenre keroncong selama ini dianggap hanya cocok dikonsumsi oleh kalangan orang tua dan manula saja.  Yakni dengan menampilkan wajah baru keroncong yang dipadukan dengan rock. Menjadikan keroncong lebih memiliki irama yang bersemangat, tidak sekadar beritme lambat dan mendayu-dayu.

Pertunjukan tersebut terlihat menarik dengan kehadiran sejumlah pegiat dan pelaku musik keroncong muda yang ada di sejumlah daerah di Indonesia. Beberapa diantaranya yakni grup OK Porsiba Tanjung Enim yang merupakan binaan dari PT Bukit Asam, Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel), Keroncong Tugu Jakarta, Orkes Tresnawara Jogja, ditutup dengan penampilan bintang tamu Mel Shandy.

Penampil pertama yang mengisi pertunjukkan malam tersebut yakni OK Porsiba, yang mencoba membawakan musik etnik daerah Sumsel bercampur unsur modern. Empat lagu ditampilkan, diakhiri dengan lagu ”Balikin” dari Slank yang dikeroncongkan.

Tresnawara Jogja menampilkan lagu ”Bengawan Solo” yang diaransemen layaknya perpaduan Godbless dan Ebiet G Ade dengan tempo agak cepat. Di tengah-tengah penampilannya, vokalis grup tersebut kemudian mengembalikan teknik bernyanyinya menjadi musik keroncong, dengan beat atau tempo yang lebih lambat dari sebelumnya. Sementara Keroncong Tugu Jakarta yang telah ada sejak 1988, menyanyikan lagu ”Anak Betawi” yang dibawakan layaknya grup band Seurieus.

”Keseriusan pegiat-pegiat muda keroncong tersebut dibuktikan dengan hadir di Semarang, padahal tanpa diberi biaya tampil. Hanya sekadar pengganti transport saja. Ini merupakan sebuah keberhasilan bagi Congrock 17. Saat niat menghadirkan keroncong menjadi genre musik yang akhirnya digemari generasi muda millenial, akhirnya tercapai. Tahap awalnya dapat terlihat saat generasi millenial sudah mulai mau untuk mendengarkan musik keroncong,” ujar Pimpinan Congrok 17, Marco Marnadi, di sela-sela pertunjukan.

Tidak hanya diminta tampil, pegiat muda keroncong juga diberikan penghargaan oleh Congrok 17. Dia berharap, ketika memberikan penghargaan ada unsur untuk mengingatkan. Saat dulu musik keroncong masih sedikit penampil dan hanya dimintai kalangan tertentu saja.

”Ternyata, kini perkembangannya sudah luar biasa dengan mulai banyak hadirnya pegiat dan pelaku musik keroncong muda yang bermunculan di berbagai daerah di Indonesia. Ini harus menjadi catatan penting dari pemerintah, yang hendaknya dapat mencontoh Korea Selatan karena mampu membiayai aliran musik K-Pop,” papar dia.

Untuk itu, dia berharap, pemerintah diminta lebih konsentrasi dan serius dalam memperhatikan jati diri dan budaya bangsanya. Salah satunya, tidak hanya sekadar melestarikan namun menumbuhkembangkan musik keroncong. Sesuai tema Anniversary tersebut yakni, dalam rangka ”Kebangkitan Keroncong”.

”Pada ulang tahun yang ke-36 ini, kami merasa cukup dewasa untuk memberi dan mengembangkan musik keroncong agar semakin jaya di Kota Semarang maupun Jawa Tengah,” ungkapnya.

Turut hadir dalam acara malam tersebut yakni, perwakilan Kementerian Dalam Negeri, Sekda Jateng Sri Puryono, dan Walikota Semarang Hendrar Prihadi. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *