Ganjar Usulkan Modifikasi Jins Lokal Jadi Baju Adat

BATANG (Asatu.id) – Kain jins atau denim biasanya dirancang menjadi model busana yang trendi atau kekinian. Namun bagaimana jika denim dibuat menjadi baju adat yang dikenakan sebagai pakaian kerja di kantor pemerintahan?

Usulan kain denim dirancang menjadi beskap, blangkon, serta jarik atau kain dibatik khas Jateng, kemudian dikenakan para aparatur sipil negara (ASN) tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, usai meninjau stand pameran UMKM Musrenbangwil se-Eks Karesidenan Pekalongan di Pendapa Kabupaten Batang, Rabu (13/3).

“Nanti saya mengusulkan, saya ingin membuat beskap, blangkon dan jarik berbahan jins. Jariknya dibatik karena ini kainnya tipis. Ini saya pesan dan beli atau tidak minta. Saya pesan dibuatkan blangkon beskap dan jarik berbahan jins,” ucapnya di hadapan Wakil Gubeenur Jateng H Taj Yasin Maimoen, Sekda Jateng Dr Ir Sri Puryono KSMP, sejumlah bupati dan wali kota, Forkopimda, serta berbagai elemen masyarakat.

Orang nomor satu di Jateng itu menjelaskan, setiap tanggal 15 seluruh ASN di lingkungan Pemprov Jateng diwajibkan mengenakan busana adat Jateng. Kebijakan tersebut sudah berjalan sejak periode pertama pemerintahan Gubernur Ganjar Pranowo. Dengan adanya jins produk industri rumahan warga Kabupaten Pekalongan, pakaian adat dapat dimodifikasi dengan denim lokal.

Selain terkenal dengan batiknya, Kabupaten Pekalongan juga mempunyai produk unggulan lain yang tidak kalah populer, yaitu celana berbahan denim yang pemasarannya telah merambah banyak daerah dan negara tetangga. Sentra industri rumahan celana jins dengan beragam model di wilayah Kabupaten Pekalongan tersebar di beberapa kecamatan, seperti Wonopringgo, Karanganyar, dan Kajen.

Selain jins Kabupaten Pekalongan, gubernur juga memamerkan bermacam produk unggulan dari kabupaten dan kota se-Eks Karesidenan Pekalongan. Di antaranya pemanfatan limbah kantong plastik yang disulap menjadi sepatu, tas belanja, tas laptop yang diproduksi kelompok perajin Kube Kota Tegal.

Melalui pelatihan dan pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tegal serta instansi terkait lainnya, kelompok perajin memanfaatkan limbah plastik kresek untuk diolah menjadi bermacam produk, seperti sepatu, tas belanja, tas laptop, dompet, dan aneka suvenir cantik.

“Ini limbah plastik kresek yang diolah menjadi produk menarik. Juga ada limbah kertas koran dilinting menjadi hiasan sangat bagus. Kalau kita bisa melakukan seperti maka sampah akan berkurang,” katanya.

Tidak kalah menarik produk berbahan eceng gondok buatan warga Kota Pekalongan. Batang tanaman eceng gondok dibuat sandal jepit yang unik dan menarik. Ada pula handuk tenun bercorak batik khas Kota Pekalongan yang tidak ditemukan di daerah lain.

“Sprei lukis dari Batang, sandal dan kacamata dari bahan kayu yang keren bentuknya dari kab tegal dan sudah ekspor, serta kerudung cantik warnanya belum kita temukan di pasar. Kalau ini dijual online yang beli ombyokan,” bebernya.

Produk unggulan Kabupaten Pemalang juga tidak kalah menarik, salah satunya sarung tenun ATBM yang kainnya sangat halus dan lembut. Bahkan sarung khas Pemalang yang dikenal dengan sebutan sarung goyor tersebut, pemasarannya tembus negara-negara Timur Tengah.

“Saat saya ke Jeddah, sarung goyor atau sarung toldem ini laris manis. Sarung ini ukurannya panjang karena didesain untuk orang Arab. Kita mempunyai karya- karya luar biasa,” jelasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *