Pernikahan Usia Dini Jadi Masalah Bersama

Pernikahan Usia Dini Jadi Masalah BersamaSEMARANG (Asatu.id) – Pernikahan usia dini memang menjadi salah satu masalah yang harus menjadi perhatian bersama. Kematangan emosi, serta pola fikir dan sikap usia anak yang belum stabil menjadi persoalan ketika mereka menemui permasalahan rumah tangga.

Sering kali tindakan kekerasan dan perceraian menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan keluarga. Dan yang lebih fatal, akibat belum sempurnanya organ tubuh perempuan usia dini untuk mengandung dapat menyebabkan kematian pada saat melahirkan.

Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin, S.H., M.Hum mengatakan R.A. Kartini dengan emansipasinya telah memperjuangkan perempuan untuk dapat sejajar dengan laki-laki agar dapat memperoleh pendidikan dan penghidupan yang layak, tapi dengan menikah dini semua menjadi sirna dan perempuanlah pihak yang paling dirugikan.

“Sementara itu, ditinjau dari sudut keamanan dan pertahanan, masyarakat yang berpendidikan rendah, hidup dibawah garis kemiskinan dan keluarga yang amburadul memiliki kerentanan lebih tinggi karena sangat mudah dipengaruhi untuk berbuat kriminal demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujarnya.

Bahkan dengan kondisi tersebut, lanjut Kapendam, akan membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa, karena dengan menggunakan isu kesenjangan sosial masyarakat akan mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang ingin menghacurkan bangsa dan negara.

Mengingat dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini tersebut, Kolonel Arh Zaenudin berharap masyarakat dapat lebih membuka wawasan dengan lebih peduli terhadap kelangsungan hidup putra-putrinya.

“Bangkitkan emansipasi, cegah pernikahan dini, jangan karena ingin melepas tanggung jawab, masa depan anak menjadi hancur karena harus menjadi korban pernikahan dini. Dorong anak-anak untuk belajar dan berprestasi serta berkarya sesuai dengan bidangnya agar pada saatnya nanti dapat membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera,” pungkasnya.

Apa yang disampaikan Kapendam bukan tanpa alasan, pada tahun 2017 Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) mencatat 30 ribuan warga Jawa Tengah (Jateng) yang mengajukan dispensasi ke Kantor Urusan Agama (KUA) untuk bisa menikah diusia dini dengan berbagai macam alasan, seperti hamil diluar nikah, perjodohan orang tua atau keinginaan sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *