Pendapatan Pajak Restoran Terus Digenjot

SEMARANG (Asatu.id) – Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang, Yudi Mardiana mengatakan, Pemerintah Kota Semarang akan genjot pendapatan asli daerah (PAD) di sektor pajak restoran. Hal ini mengingat PAD dari pajak restoran dinilai kurang maksimal.

“Pendapatan daerah dari sekotr pajak restoran kondisinya selalu naik turun. Karena pendapatan restoran sendiri juga tidak sama setiap bulannya,” kata Yudi, di Balaikota, Senin (11/3).

Lebih lanjut, Yudi mengungkapkan, berdasarkan data dari Bapenda Kota Semarang, realisasi untuk sektor pajak tersebut saat ini baru mencapai 17,5 persen. Seharusnya, menurut perhitungan Bapenda Kota Semarang, realisasi hingga Maret 2019 ini sudah mencapai 22 persen dari target.

“Di tri wulan ini sektor pajak restoran realisasinya kurang sedikit dari target per tri wulan,” ungkapnya.

Menurunnya pendapatan dari sektor pajak restoran tersebut, lanjut Yudi, karena faktor waktu. Di mana pendapatan restoran setiap bulannya tidaklah sama, atau cenderung naik turun.

“Ada naik turunnya pendapatan dari restoran itu. Itu yang sebabkan pajaknya juga naik turun,” ungkapnya.

Misalnya, pendapatan restoran saat musim liburan, baik liburan Natal dan Tahun Baru ataupun Idul Fitri, rata-rata hampir mengalami peningkatan. Hal itu juga berpengaruh terhadap pajak dari restoran tersebut yang juga sudah bisa dipastikan mengalami peningkatan.

“Karena kita ngitungnya jika secara matematika itu 100 dibagi 12, tetapi terkadang ada bulan tertentu memang kurang. Restoran itu misalnya bulan puasa pemasukan mereka kurang, dan hari tertentu berkurang,” katanya.

Data Bapenda Kota Semarang, saat ini jumlah wajib pajak (WP) restoran mencapai 3.700. Namun demikian, menurut Yudi, dari total jumlah tersebut pembayaran pajak belum teroptimalisasi.

“Kendala lain yaitu beberapa wakjib pajak dalam pembayaran juga sering terlambat,” ungkapnya

Hal itu yang saat ini difikirkan oleh Pemkot Semarang dalam hal ini Bapenda Kota Semarang, untuk dapat menggenjot pendapatan dari sektor pajak tersebut.

“Karena pembayaran juga ada yang telat. Jadi kita akan mengoptimalkan dulu yang besar-besar ini,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *