International Women’s Day Semarang Tonggak Sejarah Baru Perjuangan Hak Perempuan

International Women's Day Semarang Tonggak Sejarah Baru Perjuangan Hak PerempuanSEMARANG (Asatu.id) – Sudah 35 tahun Indonesia meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) yang memberi konsekuensi terhadap Indonesia untuk menjamin terhapusnya segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

Namun hingga kini praktik diskriminasi masih terus terjadi di berbagai bidang dengan bentuk yang beragam. Komisi Nasional Perempuan RI mencatat terdapat ratusan produk hukum yang mendiskriminasi perempuan.

Hari ini merupakan tonggak sejarah baru bagi perjuangan perempuan di seluruh dunia dalam menyerukan hak-haknya. Di Kota Semarang sendiri untuk pertama kalinya momentum perayaan Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day yang jatuh pada 8 Maret 2019 ini diperingati dengan melakukan aksi turun ke jalan bersama berbagai kalangan masyarakat dan pergerakan, di seputar Simpang Lima dan Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (8/3).

Seruan aksi ini dilakukan, sebagai upaya kolektif yang tergabung dalam Aliansi Barisan Kesetaraan (ABK) diselingi orasi dan tetarikal tentang memperjuangkan hak perempuan sebagai hak asasi manusia yang peduli terhadap kesetaraan dan anti diskriminasi terhadap perempuan.

International Women's Day Semarang Tonggak Sejarah Baru Perjuangan Hak PerempuanHumas ABK sekaligus perwakilan dari Muda Melawan, Nadia mengatakan kedepanya jaringan perempuan di kota Semarang dapat saling menguatkan dan melengkapi pergerakan yang berada di kota Semarang. Adapun dalam aksi ini tuntutan utamanya adalah melawan budaya patriarki dan hancurkan kapitalisme.

“Tuntutan pertama diambil karena melihat kondisi bagaimana kita dibuat merasa normal atas ketidakadilan terhadap perempuan, seolah itu dibenarkan dan memang dari sananya begitu. Padahal tidak. Tuntutan kedua muncul ketika kita menganalisis mengapa ketidakadilan bisa terjadi dan ternyata ketidakadilan itu tidak terjadi pada perempuan saja. Penindasan terjadi secara sistematis kepada rakyat kecil seperti kita,” ujarnya.

Beberapa poin yang menjadi tuntutan ABK yakni bangun gerakan perempuan, berikan pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini, lindungi pekerja seks, lawan toxic masculinity, tidak ada demokrasi tanpa pembebasan perempuan, lawan kekerasa seksual, berikan hak menetukan nasib sendiri bagi rakyat Papua, dukung RUU-PKS, lawan seksisme hancurkan kapitalisme.

Selain itu menuntut penghentian perampasan tanah dan kerusakan lingkungan, ciptakan ruang aman, penuhi hak pekerja perempuan, lindungi pekerja migran, perempuan bukan objek komoditas, kerja setara upah setara, lawan budaya patriarki, hentikan eksploitasi seksial (sextortion), serta lawan rasisme, seksisme, homofobia, transfobia.

International Women's Day Semarang Tonggak Sejarah Baru Perjuangan Hak Perempuan“Poin-poin tersebut menyebutkan hal-hal terkait ketidakadilan yang kami rasakan setiap harinya. Tuntutan tersebut hanya sebagian kecil dari penindasan yang dialami oleh rakyat tertindas lainnya. Kami terbuka secara demokratis akan  tuntutan lain asal tidak rasis, tidak fasis, dan tidak seksis. Kami tahu, tidak akan ada banyak perubahan dalam kondisi penindasan yang terjadi saat ini bila sistemnya tidak diubah. Tapi kami tidak akan berhenti sampai sini, kami akan semakin banyak, semakin kuat sebagai gerakan, semakin meluas dan tidak terbatas teritori ataupun identitas tertentu,” jelasnya.

Sementara itu, pada aksi ini juga dilakukan serentak di seluruh dunia sebagai upaya menegaskan sikap terhadap penindasan yang harus diakhiri bersama-sama. Penegasan itu tidak berhenti hanya aksi di jalan, melainkan dengan kampanye di ruang publik, sosial media, dan diskusi-diskusi memahami dan cara melawan penindasan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *