Generasi Milenial Harus Bersikap Kritis Soal Energi Masa Depan Indonesia

SEMARANG (Asatu.id) – Isu energi merupakan isu yang menarik di dunia Internasional, terlebih isu persoalan tentang energi terbarukan karena salah satu target dalam Sustainable Development Goals adalah energi terbarukan.

Namun hingga kini, isu energi acapkali tidak populer bahkan masih menjadi hal asing untuk diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia terutama di kalangan generasi milenial.

Apalagi menjelang Pemilu 2019, generasi milenial seharusnya dapat bersikap kritis terhadap komitmen kedua kandidat presiden untuk dapat beralih dari energi kotor yang menggunakan energi fosil seperti batubara ke energi bersih yang ramah lingkungan.

Pasalnya, pemenuhan kebutuhan energi terutama untuk listrik di Indonesia saat ini masih bergantung pada penggunaan sumberdaya yang tidak berkelanjutan dan menimbulkan kerugian, tidak hanya untuk lingkungan, namun juga masyarakat yang tinggal di sekitar tambang batubara maupun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Demikian yang mengemuka dalam acara diskusi bertajuk “Energi di Mata Milenial, Potensi Masa Depan” yang digelar di NIR Coffee & Workingspace, Patemon, Gunung Pati, baru-baru ini. Acara yang digelar oleh Enter Nusantara ini mengajak kalangan milenial untuk mulai mengenal dan mempopulerkan isu energi.

Sebelumnya puluhan pengunjung yang hadir dibagikan kartu pos #bersihkanindonesia untuk menuliskan harapannya bagi masa depan Indonesia yang lebih baik terkait persoalan energi bersih ramah lingkungan.

“Kami ingin menunjukan bahwa masalah energi adalah masalah yang dekat kita, para milenial, sehingga isu ini tidak hanya berkutat di sekelompok orang saja. Apalagi menjelang pemilu 2019, kami ingin generasi milenial dapat mengkritisi komitmen kedua kandidat presiden untuk dapat beralih dari energi kotor yang menggunakan energi fosil seperti batubara ke energi bersih yang ramah lingkungan.” kata Mutia, Direktur Eksekutif Enter Nusantara.

Sementara itu, aktivis Greenpeace Indonesia Dinar Bayu sebagai pemantik diskusi menceritakan bagaimana dampak buruk penggunaan batubara sebagai sumber energi listrik.

“Lubang-lubang bekas tambang mengakibatkan puluhan anak meninggal, kerugian ekonomi masyarakat nelayan danpetani di sekitar PLTU, hingga polusi udara yang dihasilakan PLTU berupa pm 2.5 yang juga dapat dirasakan masyarakat yang ada diperkotaan,” jelasnya.

Maka dari itu, lanjut dia, penting untuk melihat sejauh apa isu energi ini disadari dan juga dipahami oleh generasi milenial, dan juga bagaimana generasi ini mampu membawa perubahan dari era energi kotor berbasis fosil menuju era energi terbarukan, yang bersih dan ramah lingkungan.

Jumlah generasi milenial yang lahir antara tahun 1976-2001 terhitung sebanyak 80 juta orang. Ini berarti ada sekitar 30% dari penduduk Indonesia yang berhadapan langsung dengan dampak jangka panjang yang hadir dari efek penggunaan energi fosil oleh generasi sebelumnya.

Untuk itu sebagai generasi milenial yang sadar akan isu energi menjadi faktor penting dalam mendorong transisi energi di Indonesia.

Acara tersebut juga menghadirkan beberapa pembicara lain sebagai pemantik diskusi yakni Ismail Al Habib dari Walhi Jateng, Adin Hysteria, serta perwakilan seniman dan anak muda milenial Arga Yudha. Kemudian diakhiri dengan pertunjukan musik akustik yang menghangatkan suasana. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *