Tekan Kemiskinan, Jateng Fokuskan Perlindungan Kelompok Rentan

Tekan Kemiskinan, Jateng Fokuskan Perlindungan Kelompok RentanSEMARANG (Asatu.id) – Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Nur Arafah menandaskan, persoalan kemiskinan di Jawa Tengah tidak hanya disebabkan oleh pengangguran. Persoalan yang dialami kelompok rentan juga disinyalir menjadi penyumbang angka kemiskinan di Provinsi tersebut.

Hal itu disampaikan Nawal Nur Arafah dalam rapat koordinasi bersama instansi terkait di Semarang, Rabu (27/2). Dalam kesempatan itu, istri Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen tersebut menekankan pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan yakni perempuan, anak, penyandang disabilitas, buruh migran dan kelompok minoritas lainnya di Jawa Tengah.

“Sinergi perlindungan pada kelompok rentan di Jawa Tengah harus terus dilakukan. Selain sebagai pemenuhan hak-hak mereka, perlindungan kelompok rentan juga penting sebagai bagian dari tindakan pengurangan kemiskinan di Jawa Tengah,” kata Nawal.

Selama ini, lanjut dia, kelompok rentan masih menghadapi masalah mendasar, yakni belum terwujudnya penegakan perlindungan hukum yang menyangkut hak-hak mereka. Komunitas masyarakat rentan belum mendapatkan prioritas dari kebijakan pemerintah yang lebih banyak berorientasi kepada pemenuhan dan perlindungan hak-hak sipil politik dan ekonomi, sosial dan budaya.

“Komunitas masyarakat rentan belum mendapatkan prioritas dari kebijakan tersebut. Ini perlu terus didorong agar pemenuhan hak-hak mereka bisa dipenuhi,” tambahnya.

Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, selama tahun 2013-2017 terdapat 12.234 perempuan korban kekerasan, atau setidaknya ada 6-7 perempuan per hari mengalami kekerasan di Jawa Tengah. Dari tahun 1993-2017 tercatat 20.168 orang dengan HIV/AIDS dan 37% adalah perempuan.

Ikatan Perempuan Positif HIV/ AIDS Indonesia (IPPI) telah mendampingi 2.243 ibu rumah tangga yang terpapar HIV/ AIDS dari pasangannya. Sedangkan data Pusat Pengembangan dan Latihan Rehabilitasi Para Cacat Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Solo menyebut tahun 2017 terdapat 59.551 perempuan merupakan penyandang disabilitas.

“Keberadaan kelompok rentan ini menyumbang kemiskinan di Jawa Tengah sehingga perlu penanganan serius untuk menguranginya,” tandasnya.(IS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *