Perkembangan Industri Pesat, Kurikulum Harus Diubah

DEMAK (Asatu.id) – Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, melaunching Program Pendidikan Vokasi Industri Jateng dan DIY tahap kedua, di PT Delta Dunia Sandang Tekstil, Kamis (28/2). Launching dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Dirjen Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hamid Muhammad, sejumlah pejabat Kementerian Perindustrian, anggota DPR RI, dan Bupati Demak M Natsir.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap bangunan link and match industri dengan SMK di Jawa Tengah mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kerja.

Menyinggung olitik pendidikan untuk menyusun kurikulum, menurut gubernur, harus menyesuaikan industri dan berdasarkan kebutuhan industri. Jika dulu kurikulum yang diterapkan tidak cocok dengan sektor industri, saat ini jangan sampai terulang.

“Jangan kita biarkan kurikulum kita seperti itu. Harus kita ubah dengan cepat. Kalau tidak, SDM kita bisa ketinggalan jauh,” tandas mantan anggota DPR RI ini.

Sementara Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menambahkan, dari penyesuaian kurikulum tersebut, akhirnya terjadi banyak jalinan perjanjian antara dunia industri dengan pendidikan. Tercatat ada 585 perjanjian antara 116 perusahaan dengan 391 SMK pada 2018, dan 2.340 SMK dengan 861 perusahaan dengan total 4.293 perjanjian. Bahkan 2019 ada 2.685 SMK dibina oleh perusahaan industri di tingkat nasional.

“Kerja sama ini sesuai arahan Presiden untuk mencetak 1 juta lulusan SMK yang dikombinasikan pelatihan 3 in 1. Mereka dilatih, sertifikasi dan dapat pekerjaan,” terangnya.

Ditambahkan, total ada empat sektor industri yang saat ini tengah digarap, dari makanan minuman, kimia, tekstil, hingga sektor otomotif. Dan terdapat 34 program studi yang terus digenjot. Selain itu, pihaknya juga terus meningkatkan keterlibatan kaum difabel untuk mengikuti pelatihan.

“Ada 400 difabel yang sudah kita latih. Rencana 72 ribu akan kita latih dan difabel masuk di dalamnya,” tandasnya.

Sementara itu, Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad mengatakan pihaknya terus melakukan penyelarasan kurikulum, dan sudah dilakukan pada sembilan bidang keahlian, 49 program keahlian, dan 146 kompetensi keahlian. Namun, seiring pesatnya teknologi, masih memungkinkan adanya penyelarasan di tiap SMK.

“Meski sudah penyelarasan, perkembangan teknologi sangat pesat. Penyelarasan kembali di setiap SMK memungkinkan. Karenanya, pihak SMK harus terus men-update informasi dan perkembangan,” tandasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *