Pidato Kebangsaan Prabowo Hadirkan Puluhan Pakar

SEMARANG (Asatu.id) – Pidato Kebangsaan Capres Prabowo Subianto di Hotel Po, Paragon, Semarang, dihadiri puluhan panelis yang terdiri dari ahli, pakar, tokoh hingga politikus, Jumat (15/2).

Capres nomor urut 02 itu menyebut para panelis yang mendampinginya akan membantu dirinya dan Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 ini.

“Di belakang saya ada beberapa puluh pakar-pakar, tokoh-tokoh, ahli-ahli. Mereka sudah menyatakan bersedia untuk membantu saya dan saudara Sandiaga Uno,” ujar Prabowo, di hadapan ribuan pendukungnya.

Prabowo juga memperkenalkan sejumlah nama pakar sesuai bidangnya masing-masing. Mulai dari ekonom, pakar infrastrutkur hingga energi dan pangan, ahli lingkungan hidup serta politikus perwakilan dari Koalisi Adil dan Makmur.

“Di belakang saya ada Profesor Burhanudin Abdullah, pernah jadi Gubernur Bank Indonesia, ada Doktor Alex Yahya, ada Haryadin. Dokter Andika pakar ekonomi, Sugiono, Riza Setiawan, Suhendra Ratu, Saudara Putra Jaya Husin, Bambang Haryo Sukartono, Saudara Marco Kusuma. Itu tadi di bidang ekonomi dan infrastruktur,” kata Prabowo.

Ia juga menyebut nama Willie Smits, Sudirman Said, Said Didu, Kardaya Warnika, Laode Kamaluddin dan sejumlah nama lain sebagai pakar bidang energi dan pangan.

“Sementara untuk pakar lingkungan hidup ada nama Fabby Tumiwa, Achmad Adhitya, Suhardi Suryadi, dan Irvan Pulungan,” tambahnya.

Dalam pidatonya, Prabowo kerap mengumpamakan negara dengan tubuh manusia. Ketika para ahli dan pakar berkata jika banyak masalah dalam negeri, seharusnya sang pemilik tubuh tersebut sadar.

“Harusnya sadar diri dan mulai memperbaiki. Pemilik tubuh bangsa ini ya pemerintah. Tapi bukannya sadar diri, justru bentak-bentak. Itu tandanya pasien sudah tidak waras,” tandasnya.

Menurut Prabowo, berdasarkan ucapan Menteri Keuangan RI, setidaknya ada Rp 11 triliun lebih uang negara berada di luar negeri.

“Mengapa tidak disimpan di negara sendiri. Mengapa kekayaan kita justru disimpan di luar negeri? Bangsa ini bisa mengalami keterpurukan,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan, PBB sudah memprediksi dunia akan mengalami krisis air bersih. Negara-negara besar nantinya juga akan saling berperang hanya untuk memperebutkan sumber daya alam.

“Sumber daya alam merupakan penghasil pangan untuk sebuah negara. Mana bisa menghasilkan swasembada pangan jika krisis air masih menjadi masalah,” paparnya.

Prabowo juga menandaskan lagi, gaji para polisi, jaksa, hakim, PNS harus disesuaikan. Supaya tidak ada lagi penegak hukum yang korup. Sebab kalau gaji sudah besar tentu orang akan berpikir dua kali untuk korupsi.

Prabowo mengaku sering melakukan silaturahmi dengan kalangan kiai, pendeta, pastur, bhiksu, dan tokoh agama lainnya, tetapi tidak untuk meminta dukungan. “Mereka guru. Kita tidak boleh menggurui seorang guru. Saya hanya minta doa restu saja,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *