Pakar Pendidikan : Fenomena Geng Motor 69 Bukti Pendidikan Gagal Terapkan Pendidikan Karakter

SEMARANG (Asatu.id) – Pakar Pendidikan Kota Semarang yang juga Ketua Dewan Pembina Universitas PGRI Semarang, Sudharto mengatakan, kasus kenakalan remaja geng motor 69 yang akhir-akhir ini meresahkan Kota Semarang, menjadi salah satu bukti gagalnya sekolah dalam hal menyiapkan anak memiliki karakter yang baik.

“Selama ini pendidikan karakter di sekolah hanya bersifat pengajaran. Harusnya bagaimana ekolah menyapkan supaya anak-anak kita ini memiliki good karakter,” katanya, Kamis (8/2).

Lebih lanjut, Sudharto mengungkapkan, dalam hal ini pihak sekolah ke depan harus mampu memberikan pelatihan terkait dengan pendidikan karakter yang nyata.

“Harus mulai melatih bagaimana menerapkan pendidikan karakter. Jadi tidak hanya sekadar teori saja,” ungkapnya.

Banyak nilai di dalam pendidikan karakter yang memang harus dilatihkan kepada siswa. Seperti kedisiplinan, kejujuran, menghargai orang lain. Meski sudah ada pedoman Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah, namun menurut Sudharto pelaksanaannya belum efektif.

“Karena di pedoman itu, semua diserahkan kepada guru, orang tua tidak dilibatkan. Saya membaca, pedomannya guru tidak mengerti,” ungkapnya.

Sementara terkait dengan persoalan adanya geng remaja yang gemar berperilaku anarki tersebut, lanjutnya, merupakan persoalan yang serius.

Apalagi, pola pendidikan yang digemborkan pemerintah sejak dahulu, yaitu tentang pendidikan karakter kepada anak. Namun implementasi di sekolah hal itu masih banyak tidak ditemui. Sehingga menghasilkan generasi-generasi yang senang akan tindakan brutal maupun anarkis.

“Memang sudah ada kemajuan, polanya semua guru bertanggung jawab untuk mengajarkan pendidikan karakter, namun pelatihan bagaimananya yang belum,” ungkapnya.

Persoalan ini, lanjut dia, harus menjadi catatan sendiri bagi dunia pendidikan Kota Semarang. Menurutnya, sekolah-sekolah harus mulai memfikirkan bagaimana memberikan pendidikan karakter yang hanya tidak sebatas teori saja.

“Perlu diterapkan praktik pendidikan karakter. Bisa dimulai darimana saja, baik dari lingkunga sekolah maupun lingkuna keluarga terlebih dahulu,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *