Ngeyel Tak Kunjung Pindah, Saluran Listrik Kios PKL Karangtempel Dicabut

SEMARANG (Asatu.id) – Dinas Perdagangan Kota Semarang mengambil cara tegas untuk memindah Pedagang Kaki Lima (PKL) Karangtempel, Barito. Tindakan tegas tersebut dilakukan dengan cara memutus aliran listrik di kios-kios milik pedagang.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, tindakan tersebut sebagai upaya mempercepat proses relokasi pedagang di lahan sewa MAJT. Hal ini mengingat proses pemindahan sudah dilakukan penundaan berkali-kali.

“Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana kesulitan membangun parapet bagi normalisasi Banjir Kanal Timur. Proses pembangunannya terhalang kios-kios di sana. Kami pun memahami posisi mereka, yang berusaha melaksanakan tugas sesuai jadwal. Jadi, pedagang dimohon segera pindah tanpa harus menunggu semua fasilitas selesai dulu,” katanya, Kamis (7/2).

Fajar mengungkapkan, di lahan sewa MAJT saat ini Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang telah melakukan proses  pembuatan saluran drainase seluas 3.000 meter persegi.

Sementara untuk pengaspalan jalan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) akan mengerjakannya usai pembangunan saluran drainase. Jaringan listrik pun telah dalam pengerjaan di lahan sewa MAJT.

“Harapannya, proses pengerjaan secara paralel dapat tercapai. Tentunya tidak akan terlalu membuat lelah dan menghabiskan energi besar. Kami membongkar 20 kios pada kesempatan kali ini. Adapun kios tersisa di Karangtempel diperkirakan tinggal sekitar 65 kios,” ungkapnya.

PKL Karangtempel, Suprayitno (50), mengatakan, masih bertahan di kios Jalan Barito karena infrastruktur jalan dan listrik di lahan sewa MAJT belum terealisasi. Dia telah mendapatkan pemberitahuan dari Dinas Perdagangan Kota Semarang, jika batas akhir pembongkaran hingga 15 Februari.

“Saya akan bertahan di sini hingga infrastruktur jalan dan listrik di Lahan Sewa MAJT selesai. Kami tentunya tidak bisa bekerja maksimal kalau jalan berlumpur dan susah dilalui. Selain itu, tanpa adanya jaringan listrik maka pengerjaan bubut tidak bisa berjalan,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *