Dengan Sistem Zonasi, Keluarga Miskin Jangan Takut Sekolah

SEMARANG (Asatu.id) – Anggota Komisi E DPRD Jateng, Moh Zen Adv menegaskan, pendidikan merupakan urusan wajib bagi pemerintah dan hak bagi warga masyarakat tanpa memandang strata sosial.

“Dari pendidikan anak usia dini, dasar, sampai ke menengah atas. Kemudian soal SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), sudah dihapus, namun substansinya masih dijalankan. Dengan kondisi demikian, intinya harus ada komitmen bersama untuk menyelesaikan permasalahan,” tandas Moh Zen dalam acara Parlement Radio yang mengangkat tema “Keluarga Miskin Jangan Takut Sekolah”, di Gedung DPRD, Senin (4/2).

Dengan sistem zonasi yang demikian, Moh Zen mengharapkan ada jaminan keterpenuhan bagi siswa miskin sebesar 20 persen. Panitia penerimaan siswa baru harus proaktif berkoordinasi dan sinkronisasi data-data siswa yang kurang mampu.

“Meskipun hal ini sudah berbasis IT, namun masih perlu adanya tim khusus untuk cek silang data kemiskinan data siswa yang kurang mampu itu. Dikhawatirkan banyak siswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya, karena hal ini merupakan wewenang Provinsi. Maka dari itu, harus ada jaminan dengan SKTM ini tidak ada ini minimal kuota penerimaan siswa miskin terpenuhi. Jangan sampai ada anak usia sekolah yang tidak mau sekolah dengan alasan apapun,” tutup Zen.

Sementara, Plt Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Sulistyo, mengimbau secara regulasi menurut Permendikbud 51/2018, surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang dikeluarkan harus benar-benar untuk warga miskin. Saat ini PBDB tahun 2019-2020 yang diutamakan adalah zonasi.

“Dengan zonasi, biaya yang dikeluarkan lebih sedikit, kalau jarak sekolah dan rumah dekat, jadi tidak menambah biaya orang tua untuk anak bersekolah. Saat ini kami sedang menggodog Pergub tentang PBDB, sudah masuk ke Biro Hukum untuk dikaji, persiapan juknisnya,” paparnya.

Untuk menjamin anak usia sekolah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan Bantuan Siswa Miskin (BSM), besiswa-beasiswa, UPZ dan lainnya. Program tersebut dikhususkan untuk membiayai anak-anak dari keluarga miskin supaya bisa melanjutkan pendidikannya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *