Teliti Pupuk Organomineral, Kontingen Undip Raih Gold Medal di Taiwan

Teliti Pupuk Organomineral, Kontingen Undip Raih Gold Medal di TaiwanSEMARANG (Asatu.id) – Kontingen Undip berhasil meraih medali emas dalam ajang 5th Kaohsiung International Invention & Design Expo 2018 (KIDE) di International Convention Center Kaohsiung (ICCK), Kaohsiung, Taiwan.

Kontingen Undip tersebut diketuai oleh Widi Dwi Noviandi (S1 Agroekoteknologi/FPP) dengan 5 anggota lainnya yaitu Eko Susilo (S1 Peternakan/FPP), Aulia Fitriana Ardhyatul Jannah (S1 Agroekoteknologi/FPP), Aqmarina Sandi Listya Mariati (S1 Agroekoteknologi/FPP), Nanik Nurhana (S1 Agroekoteknologi/FPP), dan Widiya Ningrum (S1 Teknik Lingkungan/FT).

Acara yang diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Association (WIIPA) dan Taiwan Invention Products Promotion Association (TIPPA) ini merupakan salah satu kompetisi exhibition terbesar di Asia yang diikuti oleh lebih dari 25 negara di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika.

Negara peserta yang mengikuti kompetisi tersebut antara lain Indonesia, Malaysia, Kambodia, China, Filipina, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, Arab Saudi, Canada, Sudan, India, Amerika Serikat, dan negara-negara lain di belahan dunia.

Tim dari Undip ini mempromosikan inovasi produk invensi terbarunya dari hasil kajian penelitian dalam upaya mengembangan pupuk organik yang telah ada, dengan judul “Eco-friendly Bio-organomineral Fertilizer for Soil Sustainability”. Produk ini telah diuji di Laboratorium Kimia, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah.

Ketua Kontingen Undip Widi Dwi Noviandi mengemukakan bahwa pupuk ini diharapkan menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan degradasi lahan-lahan sub-optimal, terutama pada kategori lahan kering dan masam.

“Degradasi lahan disebabkan akibat dampak dari banyaknya penggunaan pupuk kimia sehingga terjadi penurunan kualitas kesuburan tanah yang tidak maksimal. Oleh karena itu produk pupuk organomineral ini dapat meningkatkan produksi tanaman pada kondisi masam.” ujarnya.

Widi menjelaskan komposisi pupuk ini terdiri dari limbah kotoran sapi, Lemna minor L. (Duckweed), zeolit dan diperkaya bakteri Methylobacterium. Keunggulannya adalah mekanisme pupuk ini mampu  menghasilkan  enzim  urease yang berperan dalam metabolisme nitrogen, memacu pertumbuhan dan morfologi  akar, menginduksi tanaman resistan secara sistemik dan sebagai sumber nitrogen dalam membantu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

“Selain itu, pupuk ini dapat memperbaiki kapasitas pertukaran kation dalam tanah dan bersifat slow release fertilizer sehingga ketersediaan hara terjaga secara optimal” ujarnya.

Widi berharap produk ini tidak hanya sampai pada penelitian saja, namun bisa dikembangkan lebih lanjut supaya dapat bermanfaat bagi masyarakat umum dan petani khususnya.

Tak hanya itu, hebatnya lagi, 4 mahasiswa pertanian, 1 mahasiswa peternakan dan 1 mahasiswa teknik lingkungan itu juga mendapatkan apresiasi berupa Special Awards dari Korea Invention University Association (KUIA) atas ide yang inovatif terkait produk penelitiannya yang diserahkan langsung oleh Lee Ju Hyung (Professor di Kongju National University sekaligus President Korea University Invention Association).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *