Goresan Cat dan Kuas, Titik Nadir Hidup Seorang Pejalan Sunyi

Intan Esty, salah satu anggota Woman Painter Community (Wopanco), saat melakukan kegiatan melukisnya. (dok/istimewa)

SEMARANG (Asatu.id) – Ditemui di pameran perdana Woman Painter Community (Wopanco), beberapa waktu lalu, Intan Esty nampak tengah menjelaskan lukisan kanvasnya kepada para pengunjung pameran. Salah satu karyanya adalah lukisan gambar gedung di tepi kanal yang tertuang di kanvas berukuran 15 x 30 cm.

Menurut anggota komunitas Wopanco ini, dunia seni rupa sudah ditekuninya sejak tahun 2014. Ini bukan hobi sedari kecil, meski ketika usia 4 tahun ia sudah pernah memegang kuas dan cat minyak.

Ketika itu dirinya suatu kali pernah diajak kolaborasi oleh almarhum sang ayah Soenardi yang memiliki nama beken Masdi Soenardi. Yang kala itu juga melahirkan karyanya yang cukup melegenda, yakni komik strip “Pak Bei” dan “Si Kancil di Harian Suara Merdeka.

“Dulu pernah sekali diajak berkolaborasi sama almarhum bapak yang memang seorang kartunis dan pelukis. Tapi dulu belum nemu nikmatnya melukis, jadi ya kuas tak lagi saya pegang hingga dewasa,” paparnya kepada Asatu.id.

Kuas dan cat tak lagi dilirik hingga ketika ia sampai pada titik nadir hidup dan harus melalui masa-masa yang berat.

“Saya pernah berkonseling rutin dengan psikolog. Ketika itu beliau menyarankankan saya untuk memiliki kegiatan yang bisa mengalihkan saya dari masalah-masalah yang ada. Karena menulis merupakan pekerjaan dan tak bisa saya jadikan pelarian, makanya saya memilih menjajal bermain-main dengan cat,” begitu papar wanita yang pernah selama 14 tahun nyemplung di dunia jurnalistik ini.

Dari keisengan yang hanya bertujuan untuk sekejap lari dari beban masalah, ternyata melukis jadi kegiatan yang memiliki candu. Ia menikmati goresan kuas dan cat yang dijajalnya mulai dari kanvas, kain, hingga kayu.

Selama masih menduduki bangku redaktur di salah satu tabloid wanita di Jawa Tengah, ia pun mencoba mengolah hobinya untuk dijadikan sumber pundi-pundi uang.

“Saya pernah berjualan totebag lukis, pouch lukis, dan lukisan acrylic on canvas. Pasarnya dari dalam dan luar Semarang,” ujarnya.

Pernah suatu ketika ia mengerjakan ratusan totebag lukis untuk souvenir ulang tahun seorang pelanggan yang berdomisili di Malang. Bahkan beberapa produsen home decor dan beberapa butik pernah memesan lukisan di atas kertas untuk dipajang di galeri mereka masing-masing.

Kini selepas menggantung kamera dan pena alias tak lagi berkecimpung di dunia pers, Intan Esty mengaku lebih berfokus pada lukisan di kanvas dan di atas kertas.

“Sekarang tak lagi menggambar di tas. Saya lebih fokus melukis di kanvas atau di kertas menggunakan water color paint, ” papar ia yang memiliki galeri di Instagram @intan_esty ini.

Bagi wanita mungil kelahiran Yogyakarta, 14 Mei 1979 ini, melukis bukan soal menggores kuas dengan teknik ini dan itu yang kemudian melahirkan aliran rupiah yang membanggakan. Melukis baginya lebih ke soal bercerita, memaparkan segala yang tak tersampaikan secara verbal.

“Kalau lagi girang pengen melukis, ya melukis. Lagi sedih dan pengen oret-oret, ya ambil kertas dan kuas. Begitu saja. Ini cara saya bercerita dan berlari tanpa perlu keluar uang. Selepas melukis, biasanya saya merasa lega, ada sesuatu yang sudah tertuang,” ujarnya dengan senyum.

Baginya, cat dan kanvas adalah ajang terapi diri yang mujarab. Yang aman dan tanpa perlu banyak biaya.

Selain aktivitas melukis, wanita yang akrab disapa Intan ini mengaku dalam waktu dekat akan menggelar kegiatan  workshop bareng Wopanco di bulan Februari. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *