Naik Turunnya Rupiah Tidak Pengaruhi Pelaku UKM

Ketua Umum Assosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia, Hermawati Setyorinny melihat hasil kerajinan pelaku UKM. (doc/istimewa)

SEMARANG (Asatu.id) – Memasuki awal tahun 2019 posisi rupiah masih belum stabil. Sampai hari ini mengalami sedikit penguatan terhadap dollar, meski tidak begitu signifikan.

Namun naik turunnya rupiah tidak terlalu berdampak bagi para pelaku UKM. Justru sebaliknya, penguatan terhadap dollar ini menguntungkan pelaku UKM.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Assosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumandiri), Hermawati Setyorinny, Rabu (9/1).

“Untuk eksportir ada dampaknya, tapi kita untung. Karena harganya kita kalikan dengan kurs dollar. Ini terjadi zaman Soeharto saat krisis. Saat itu rupiah terhadap dollar dari 2.500 jadi 15.000. Pelaku UKM banyak meraup untung. Kecuali bahan baku yang menggunakan bahan impor pasti harganya akan naik sedikit. Karena pasokan di UKM tidak semua bahan bakunya import, kebanyakan bahan baku yang digunakan UKM lokal,” ujarnya.

Hermawati yang juga sebagai pelaku usaha ini merasakan pula dampak dari perang dagang yang terjadi antara China dan Amerika Serikat. Namun, ia menilai, hal itu bisa teratasi jika dalam setiap transaksi menggunakan kurs masing-masing negara, bukan berpatokan pada kurs dollar.

“Kesalahannya setiap transaksi selalu menggunakan kurs dollar yang menjadi patokan. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan dengan menggalang seluruh negara-negara ASEAN untuk bertransaksi menggunakan mata uang masing-masing, sehingga dollar tidak terlalu mendominasi,” pungkasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *