Konverter Gas BRT Semarang Hemat Bahan Bakar dan Ramah Lingkungan

SEMARANG (Asatu.id) – Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang Ade Bhakti Ariawan mengatakan sebanyak 72 bus dari koridor 1, 5, 6, 7, dan koridor Bandara telah dipasang alat konveter bahan bakar gas (BBG) dan rampung pada Desember 2018 lalu.

“Penggunaan BBG ini sebagai upaya konversi bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar gas. Manfaat konversi ini adalah emisi kendaraan menjadi lebih rendah dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, biaya operasional lebih murah karena penghematan bahan bakar, dan membuat mesin awet. Penghematan bisa dilakukan karena dalam operasional armada, biaya bahan bakar gas menjadi lebih murah.

“Pada pemakaian harian di armada ukuran sedang (medium), dibutuhkan rata-rata 80 liter solar dengan harga Rp 5.150 sedangkan dengan pemakaian gas hanya dibutuhkan 60 liter (dengan patokan harga gas di Jakarta Rp 3.100) dan solar 21 liter,” jelasnya.

Ade melanjutkan konversi dari BBM ke BBG ini tidak 100% menggunakan gas. “Kami menggunakan sistem yang disebut retrofit, yakni dapat menggunakan gas dan solar. Bahan bakar solar digunakan sebagai cadangan,” ujarnya.

BRT Trans Semarang kini mulai beralih menggunakan bahan bakar gtas (BBG). Sebelumnya, uji coba penggunaan bahan bakar gas telah dilakukan 23 Juli 2018 lalu dengan menempuh jarak 16,5 km.

Uji coba ini dilakukan pada bus sedang (medium) untuk mengetahui konsumsi penggunaan bahan bakar solar yang terpakai. Selain itu juga untuk mengetahui performa mesin yang telah terpasang conveter gas CNG.

Perbandingan hasil konsumsi bahan bakar solar dengan bahan bakar standar (hanya solar) membutuhkan 5,5 liter dengan biaya Rp 28.325, sedangkan untuk bahan campuran (solar + CNG) membutuhkan  1,48 liter solar dan gas CNG 4,02 Lsp dengan biaya total Rp  20.084 (dengan patokan harga gas di Jakarta Rp 3.100). (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *