“Wong Urip Iku Mampir Ngombe” Pesan NH Dini dalam Novel Terakhirnya

"Wong Urip Iku Mampir Ngombe" Pesan NH Dini dalam Novel TerakhirnyaSEMARANG (Asatu.id) – Duka cita yang mendalam menyelimuti dunia kesusastraan tanah air. Sehari setelah kepergiaannya menyisakan rasa haru bagi kerabat dan keluarga dekat novelis legendaris NH Dini.
NH Dini yang sudah banyak menelurkan karya-karyanya di dunia sastra Indonesia, kini telah kembali pulang dalam kedamaian pada Selasa (4/12) karena mengalami kecelakaan di Jalan Tol KM 11 Semarang.
Semasa hidupnya, NH Dini senang sekali menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya.
Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.
Di usia senjanya, NH Dini masih produktif dengan terus menulis dan menghasilkan karya sastra sebuah novel yang berjudul  ‘Gunung Ungaran : Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya’ yang diluncurkan pada bulan Maret 2018 lalu.
Bercerita tentang sebuah renungan sang Novelis legendaris selama tinggal empat tahun terkahir di Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik.
“Beliau tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri sudah 4 Tahun terkahir sebelumnya, Beliau tinggal bertahun- tahun di Wisma Langen Werdasih,” Ujar Pimpinan Wisma Lansia Harapan Asri, Bruder Heri Suparno, saat ditemui Asatu.id, Rabu (5/12)
Semasa hidup NH Dini memilih tinggal di wisma mampu menemukan ketentraman batin, kenyamanan hidup dan juga menikmati sisa hidupnya di ujung senja dengan menulis dan berkebun.
“Beliau pernah bilang dalam hidup ini dirinya akan selalu mencari kedamaian. Untuk saat ini beliau merasa damai di sini (Wisma Harapan Asri red.),” ceritanya.
"Wong Urip Iku Mampir Ngombe" Pesan NH Dini dalam Novel TerakhirnyaDi samping kamar NH Dini terdapat taman bunga dengan luas 4×5 meter yang mana dirinya selalu menghabiskan waktu disana untuk menikmati suasana.
“Selain menulis beliau juga senang bercocok tanam, ada taman kecil di samping kamar beliau. Biasanya beliau senang melihat burung-burung kecil minum di kolam kecil yang ada taman, dan merawat tanamannya dengan cara mengajak bercerita,” terangnya.
Karya novel terakhir NH Dini seolah menjadi pesan tersendiri sebelum akhirnya sang sastrawati ternama tutup usia lantaran banyak segudang kenangan dari NH Dini yang dituangkan dalam novel tersebut.
“Wong urip iku mung mampir ngombe (orang itu ibarat hanya singgah untuk minum. Semua di dunia ini tidak ada yag abadi. Dengan bertambahya usia, berpikir praktis yang didasari kegunaan sesuatu barang lebih menguasai kepalaku daripada kehendak memiliki ” tulis NH Dini dikutip dari isi novel terakhirnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *