Ngemplang Utang, Mantan GM Hotel Semesta Jadi Tersangka

ngemplang utang, mantan GM hotel semesta jadi tersangkaSEMARANG (Asatu.id) – Mantan General Manager (GM) Hotel Semesta Semarang berinisial PB, ditetapkan pihak kepolisian daerah (Polda) Jateng sebagai tersangka atas kasus tindak pidana penggelapan dana event milik perusahaan senilai Rp 2,6 miliar.

Sebelumnya, PB telah menjalani beberapa kali pemeriksaan pihak Ditreskrimum Polda Jateng, sampai akhirnya menyandang statut tersangka.

Kasus PB berawal dari acara Kementerian Desa (Kemendes) pada 19-29 Oktober 2017 di Semesta Heritage Hotel and Convention. Dari acara itulah PB melakukan manipulasi mekanisme pembayaran kepada Event Organizer (EO) selaku pihak ketiga penyelenggara kegiatan.

Sesuai perjanjian yang disepakati antara pihak Hotel Semesta dan Event Organizer, semua pembayaran kegiatan ditujukan ke rekening PT Semesta Karya Mandiri Sentosa (Hotel Semesta). Namun faktanya, atas bujukan PB, pihak EO justru mentransfer uang event tersebut ke rekening pribadi PB.

Kuasa Hukum Hotel Semesta, Aan Tawli SH MH menjelaskan, begitu mengetahui gelagat PB yang kurang baik, setelah selesai event pihak Hotel Semesta mencoba meminta klarifikasi kepada PB dan pihak EO. Namun PB yang sempat menjadi GM di Hotel Semesta kurang lebih setahun itu selalu berkilah.

“Dan sampai dengan event rampung tidak ada sepeser pun dana dari acara Kementerian Desa yang masuk ke rekening Hotel Semesta. Atas kasus itu klien kami mengalami kerugian kurang lebih Rp 2,6 miliar,” kata Aan Tawli didampingi GM Hotel Semesta yang baru, Harmanto Nur Widjanarko.

Setelah jalan mediasi dinilai gagal, akhirnya pada 24 September 2018, Assisten Chief Accounting Hotel Semesta, Eko Heru mengadu ke Polda Jateng dengan laporan kepolisian nomor LP/B/406/IX/2018/JATENG/DIT RESKRIMUM. Pasal yang dilaporkan adalah 374 dan 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang  penggelapan.

“Sudah ada mediasi sebelum melakukan laporan, hasilnya PB mengakui memang menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi dan sejumlah uang senilai Rp 300 juta diberikan kepada broker event inisial IH. Broker ini bertugas sebagai penghubung antara EO dengan PB,” tandas Aan Tawli.

Uang tersebut, lanjut Aan, ditransfer oleh EO ke rekening pribadi PB sebanyak tiga kali, yaitu 17 Oktober 2017 senilai Rp 651 juta. Kemudian tahap kedua 26 Oktober 2017 sebesar Rp 1,4 miliar, serta Rp 589 juta di tahap ketiga pada 21 November 2017.

Pihak kepolisian melalui Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) bernomor B/13486/XI/RES.1.11/2018/Ditreskrimum, akhirnya memberitahukan perihal peningkatan status terlapor menjadi tersangka. Dan selanjutnya berdasarkan keterangan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) akan dilakukan penahanan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *