Ketua Dekase Ungkap Belasungkawa Kepergian Sastrawati NH Dini

Ketua Dekase Ungkap Belasungkawa Kepergian Sastrawati NH DiniSEMARANG (Asatu.id) – “Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik surga. Kakek mengajarku buat menahan keinginan, untuk mengetahui sampai di mana aku dapat mengatur kekuatan.”

Begitulah salah satu kutipan yang khas dari penulis perempuan NH Dini dalam cerita Sebuah Lorong di Kotaku.

Kepergian seorang sastrawati terkenal di usianya ke 82 tahun ini turut meninggalkan duka cita yang mendalam bagi para pecinta karya-karyanya di sejumlah pesohor negeri.

Tak heran jika mulai dari sejumlah budayawan, penulis, hingga aktivis turut menyampaikan belasungkawa dengan kepergian NH Dini karena tragedi kecelakaan di Jalan Tol KM 10 Kota Semarang pada Selasa (4/12).

Seperti yang diungkapkan salah seorang budayawan Kota Semarang yang juga Ketua Dekase Handry TM bahwa Indonesia kehilangan seorang sastrawati besar yang karya-karyanya sangat mendunia. Beliau seorang pencerita teguh yang tokoh-tokohnya memuliakan perempuan.

“Di luar karyanya, NH Dini adalah seorang feminis yang jelas-jelas sering dikemukakan dalam berbagai forum. Sementara karyanya jauh lebih dikenal dan dihargai di luar negeri daripada di negeri sendiri,” ungkapnya saat dihubungi Asatu.id.

Handry yang juga seorang penulis dan Ketua Dewan Kesenian Semarang ( Dekase ) ini menuturkan bahwa NH Dini termasuk sedikit dari jenis penulis yang perfect dan disiplin dalam hal sikap.

“Saya rasa di Indonesia baru NH Dini satu-satunya penulis yang berani menawarkan karyanya kepada penerbit dengan menetapkan harga honorarium di depan,” tuturnya.

Saat ini jenazah almarhum NH Dini telah disemayamkan di Aula Santa Ana, Rumah Duka Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik. Menurut rencana Rabu (5/12) akan dikremasi di Krematorium Ambarawa pukul.10.00 WIB.

Selamat jalan NH Dini, Karyamu abadi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *