Warga Tanjung Mas Ikuti Pelatihan Tangguh Bencana  

SEMARANG (Asatu.id) – Sejumlah 50 orang warga dari Kelurahan Tanjung Mas, Bandarharjo dan Kemijen mengikuti Pelatihan Tangguh Bencana yang diadakan di Kantor Kelurahan Tanjung Mas Semarang, Rabu (28/11).

Peserta pelatihan yang digagas oleh PT Indonesia Power Unit Pembangkitan (UP) Tambaklorok ini, terdiri dari anggota Kelurahan Siaga Bencana (KSB), Taruna Siaga Bencana, Kelompok Srikandi, serta warga Kelurahan Tanjung Mas, Bandarharjo, dan Kemijen lainnya.

Didik, salah satu pemateri dari Forum Pengurangan Resiko Becana Kota Semarang menekankan, melalui pelatihan ini warga diajak untuk menyatukan pemahan tentang kebencanaan dan untuk mengubah paradigma lama, yakni hanya bergerak pada saat ataupun pasca terjadinya bencana saja.

“Paradigma lama, warga hanya bergerak ketika setiap terjadi bencana. Maka, sekarang setiap ada potensi bencana kita sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Paradigmanya berubah menjadi lebih banyak bergerak pada pra bencana, karena jauh lebih efektif. Misalnya lebih enak mana, mencegah atau mengobati,” ujar Didik.

Dengan mengutamakan persiapan pra bencana, Didik menambahkan, hal tersebut dapat meminimalisir dampa-dampak yang dapat timbul usai terjadinya suatu bencana. Seperti diketahui, dampak bencana yang dapat timbul berupa kematian, kehilangan tempat tinggal, dan harta benda. Terutama dampak ekonomi akibat becana yang dapat berujung pada bencana sosial.

Untuk itu selain tangguh becana dalam pelatihan ini warga juga diajak untuk tangguh secara ekonomi. Contohnya usai terjadi becana para nelayan di Tanjung Mas tidak dapat melaut, sehingga perlu mencari produktivitas lain agar dapat menekan permasalahan sosial seperti kerusuhan dan kejahatan pasca becana.

Kelurahan Tanjung Mas sendiri telah memiliki konsep simpanan, layaknya lumbung desa. Lumbung desa ini merupakan simpanan warga di saat darurat bencana. Konsep seperti ini diharapkan dapat dicontoh kelurahan lainnya.

“Nah kenapa paradigma ini juga harus dibuat, karena populasi di kota itu kan tinggi banyak kemacetan dan hambatan. Apalagi saat BPBD atau tim penanggulangan bencana datang. Warga seharusnya siap kepada lingkungannya sendiri. Kalau perlu jangan cengeng, mengharapkan bantuan, tapi harus mandiri sendiri,” tutup Didik.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *