Inilah Tiga Konsep Kota Ramah HAM

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat menjadi narasumber Rakor Aksi Hak Asasi Manusia, di ruang Ramashinta Patra Semarang Hotel and Convention, Senin(26/11),  (Pemkot Semarang/dok)

SEMARANG (Asatu.id) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi optimis dengan visi mewujudkan kota perdagangan jasa berbasis pariwisata, roda perekonomian di Kota Semarang lebih merata, Senin (26/1).

Hal tersebut terkait tiga konsep kota ramah HAM yang didorong, yakni kesetaraan, ruang aspirasi serta kolaborasi. Konsep kesetaraan diwujudkan dalam berbagai bidang mulai dari kesejahteraan, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga gender.

“Pak Sukiman misalnya, yang berusia 80 tahun dan awalnya tak berpenghasilan, saat ini berpenghasilan Rp 200.000/hari dengan menyediakan spot swafoto di Kampung Pelangi,” paparnya.

Tak hanya itu, lanjut dia, di “Kampung Pelangi”, Ani Purwono, 33 tahun, yang sebelumnya sebagai ibu rumah tangga murni, kini mampu membantu ekonomi keluarganya dengan berpenghasilan Rp 600.000/ hari dari hasil berjualan makanan dan minuman.

“Kesetaraan juga terasa dari sektor kesehatan dimana UHC memberikan jaminan kepada warga Kota Semarang dari semua golongan untuk mendapatkan kesehatan gratis jika mau dirawat di kelas 3,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, layanan Ambulan Hebat lengkap dengan alat dan tim medis juga siap memberi layanan kesehatan 24 jam gratis bagi warga Kota Semarang.

“Dari sisi infrastruktur, pembangunan juga terus dilakukan dengan konsep ramah lingkungan serta kaum difabel. Mulai dari 6.000 m pedestrian yang dilengkapi guidance block, kamar mandi ramah difabel dan lansia yang dilengkapi dengan pegangan, serta jalur khusus difabel di area Balaikota dan ruang publik terus ditambah,” jelasnya.

Tak hanya itu, Walikota Hendi juga terus membuka kran aspirasi dari warga masyarakat sehingga membuka kesempatan bagi warga untuk menyampaikan keluh kesah, masukan terhadap pemerintah.

“Harapannya tak ada lagi sekat, batasan antara masyarakat dan jajaran pemerintah. Yang ada adalah rasa kedekatan, saling memiliki dan kepedulian,” ungkapnya.

Tercatat 12.701 laporan selama tahun 2018 dilaporkan warga masyarakat dari berbagai kanal aduan yang dibuka baik medsos, call center 112, SMS lapor hendi. Aduan tersebut, ditangani paling lama 5 hari untuk perbaikan Kota Semarang. Sebanyak 12.094 telah tertangani dan sisanya masih membutuhkan tindak lanjut khususnya dari sektor penganggaran karena membutuhkan dana besar.

Konsep ketiga dalam mewujudkan HAM, lanjut Hendi, adalah dengan menggerakkan kolaborasi yang dibangun dari kecintaan, kebanggaan serta kepedulian warga, sehingga ikut bergerak bersama membangun Kota Semarang. Dengan konsep ini, Hendi menginovasi program Kampung Tematik yang mampu menggerakkan dan mengembangkan potensi lokal yang ada. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *