Wali Kota Hendi Ceritakan Bahaya HIV-AIDS melalui Film ”Bohemian Rhapsody”

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi membuka kampanye bahaya HIV/AIDS di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kamis (22/11). (Foto: Humas Pemkot Semarang/dok)

SEMARANG (Asatu.id) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi membuka kampanye bahaya HIV/AIDS kepada ratusan pelajar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kamis (22/11).

Berangkat dari kisah nyata perjalanan vokalis band Queen, Freddy Mercury, dalam film “Bohemian Rhapsody”, Wali kota Semarang Hendrar Prihadi menceritakan tentang nasib tragis sang vokalis yang meninggal akibat HIV-AIDS di usia 40 tahun saat grup musiknya sedang berada di puncak ketenaran.

Penyakit tersebut disebabkan karena sang vokalis memiliki perilaku seks menyimpang yaitu menyukai hubungan sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki.

Hendi mengatakan HIV/AIDS merusak sistem kekebalan tubuh hingga berdampak kematian. Sejumlah penyebab penularan serta persebaran penyakit HIV/AIDS, lanjutnya, karena perilaku seks menyimpang, seks bebas dan narkoba serta minuman keras.

“Karenanya, ketiga penyebab penularan HIV/AIDS tersebut wajib dihindari oleh adik-adik semua. Selain itu seorang anak yang baru dilahirkan bisa saja mengidap HIV-AIDS karena dilahirkan dari keturunan atau orang tua yang juga mengidap virus yang sama. Hal ini tentu sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Hendi menjelaskan yang bisa kita lakukan adalah yang pertama, penyandang HIV/AIDS harus tercatat di Kementrian Kesehatan atau di Dinas Kesehatan. Tidak perlu dikucilkan, namun perlu mendapatkan proteksi khusus.

“Kontak fisik yang perlu dihindari karena menjadi penyebab penularan dicontohkannya adalah seks bebas, berciuman ataupun tranfusi darah” jelasnya.

Saat ini, lanjut dia, tugas adik-adik pelajar adalah belajar sebaik mungkin untuk menggapai cita-cita dan sebagai generasi emas mampu berkompetisi memberikan manfaat terbaik bagi sesama.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat, Drs Dermawan MSi. Dermawan memaparkan masalah HIV/AIDS sudah menjadi masalah nasional bahkan internasional karena angka penderitanya sudah sangat tinggi dan terus meningkat hingga berjumlah 34.7 juta jiwa. Diperincinya, pada tahun 2017, jumlah penyandang HIV/AIDS di Indonesia mencapai 280.623 jiwa dengan penderita terbanyak pada usia produktif 25-49 tahun yakni 69,3 %.

Menurutnya, HIV/AIDS merupakan penyakit yang membahayakan dan menjadi momok. Namun, kesalahkaprahan metode penularan penyakit ini juga menjadi masalah tersendiri, khususnya terkait diskriminasi sosial terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) dan Anak dengan HIV/AIDS. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *