Menggali Sejarah Kampung lewat Sedulur Banyu

SEMARANG (Asatu.id) – Komunitas Hysteria bekerjasama dengan Direktorat Sejarah, Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Penta K Labs bertajuk ‘Sedulur Banyu’ yang isunya mengenai air dan sejarah kampung. 
Melibatkan warga kampung, Sedulur Banyu diadakan di Nongko Sawit, Gunung Pati, Semarang, perhelatan yang dihadiri para seniman kenamaan ini diadakan selama 3 hari terhitung sejak 23-25 NOvember 2018 besok.
Ketua panitia Andi Meinl mengatakan kegiatan ini melibatkan sekitar 23 nama seniman baik lokal maupun internasional. para seniman tak hanya membuat karya tetapi juga menjalani program residensi di kampung dan berkarya bersama warga.
“Display tidak seperti memindah karya ke galeri tetapi juga melalui proses melibatkan warga,” ujarnya pada awak media beberapa waktu lalu.
Selain pameran, lanjut dia, akan juga diselenggarakan konferensi terkait isu air di Semarang yang dianggap krusial dewasa ini. Ditambahkan Andi, pihaknya menggandeng pusat kajian urban Unissula untuk menyukseskan diskusi panelis tersebut.
Sementara itu, Kurator Pameran Akhmad Khairudin atau akrab disapa Adin menambahkan event ini memberi kesempatan para seniman untuk mengembangkan art project yang lekat dengan isu-isu di sekitar lokasi acara.
“2016 acara ini pertama kali diadakan di Kemijen, mengambil tema ketahanan kampung, saat ini fokusnya pada relasi manusia dan ekosistem, dalam hal ini pintu masuknya adalah air,” katanya.
Da menambahkan juga bahwa untuk memahami persoalan air, kurator dan tim  juga menggali konten sejarah kampung dan tradisi-tradisi yang berkenaan dengan air.
“Seperti Susuk Wangan misalnya, dulu merupakan ritual membersihkan sedimentasi sungai, namun sekarang sudah diangggap kepercayaan kuno yang tidak perlu dilestarikan padahal kita bisa belajar bagaimana masyarakat mempertahankan kelestarian lingkungannya,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *