Media Sosial Berpengaruh dalam Penyebaran Radikalisme dan Intoleransi

SEMARANG (Asatu.id) – Paparan narasi media sosial secara terus menerus bantu pengaruhi lahirnya bibit intoleransi dan radikalisme pada masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Sri Yuniarti, peneliti utama pada pusat penelitian politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Rekaman dari LIPI intoleransi dan radiklisme lahir dari narasi yang dibangun oleh media sosial, sehingga undang-undang penggunaan media sosial harus bisa diterjemahkan lebih baik baik oleh Kementrian Komuniksi dan Informasi,” ujarnya usai memaparkan hasil penelitian LIPI mengenai hasil riset intoleransi dan radikalisme di Indonesia, Kamis (15/11).

Sri Yuniarti menambahkan selain paparan media sosial secara terus menerus terhadap narasi intoleransi, faktor lain yang dapat mempengaruhi menyebaran paham radikalisme dan intoleransi adalah segregasi permukiman, inklusifitas lingkungan serta tingkat kesejahteraan. Selain itu tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi pemikiran seseorang terhadap suatu paham tertentu.

“Intolerasi dan radikalisme itu dapat muncul akibat kesenjangan sosial pada masyarakat, sehingga perlu adanya perbaikan kualitas hidup agar masyarakat tidak mudah tersulut,” imbuhnya.

Meski begitu Sri Yuniati mengatakan bukan tidak mungkin seseorang yang berpendidikan tinggi terpapar paham radikalime dan intoleransi, contohnya dosen dan guru yang berpendidikan tinggi masih bisa terpapar radikalisme maupun paham intoleransi. Mengenai ini ia menjelaskan jika pada kasus tertentu tingkat pendidikan dan ekonomi tidak mempengaruhi kepercayaan seseorang terhadap sesuatu.

“Terkadang masalah ideologi tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi tapi masalah percaya atau tidak percaya. Jika dia memepercayai kalau itu benar dan terpapar di sosial media secara terus menerus orang  bisa saja akan meyakini itu benar-benar ada. Seperti contoh kebangkitan PKI dan bumi data,” paparnya.

Meskipun kedua isu tersebut tidak memiliki fakta yang konkrit, Sri Yuniati menjelaskan di sinilah kontribusi media sosial terhadap penyebaran radikalisme dan paham intoleransi. Media sosiaal digunakan sebagai sarana mencuci otak masyarakat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *