Strategi Promosi jadi Alasan Ketidak-Optimalan Desa Wisata di Jawa Tengah

SEMARANG (Asatu.id) – Klaim kurangnya strategi promosi di sebagian besar desa wisata Jawa Tengah masih menjadi perbincangan hingga saat ini. Pasalnya, beberapa persoalan muncul dikeluhkan para pengelola desa wisata terletak pada segi kemasan produk acara.

Kepala Disporapar Jawa Tengah, Urip Sihabudin mengungkapkan, persoalan para pengelola desa berkait kemasan produk acara tersebut mengakibatkan ketidak-optimalan menggaet wisatawan. Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah mencatat, dari 235 desa wisata yang ada di wilayahnya terdapat 30 persen di antaranya yang berjalan stagnan.

“Banyak sekali desa wisata di sini yang harus diajari melakukan packaging. Kita harus mengajarkan kepada mereka cara mengemas acara yang menarik, menghibur wisatawan sehingga bisa diperkenalkan kepada khalayak ramai,” kata Urip, kemarin.

Menurutnya, selama ini ada banyak pengelola desa wisata yang kurang bisa mengemas acara wisata dengan lebih menarik sehingga produk yang mereka tawarkan terkesan klise dan membosankan.

“Membuat desain liflet saja dilakukan asal-asalan. Yang mereka buat ya itu-itu saja,” jelasnya.

Ia membeberkan ada sekitar 20 desa wisata di Jawa Tengah yang saat ini sulit dikembangkan. Ia pun mengaku akan terus berupaya mendorong pegiat desa wisata untuk belajar mengemas acara yang lebih baik untuk kemudian dipromosikan melalui media sosial.

Hal itu terutama untuk desa wisata paling mencolok, yakni diakuinya berada di pesisir utara Jawa Tengah dan sebagian Banyumas.

“Yang mencolok benar-benar stagnan perkembangan wisatanya itu di Tegal, Semarang, Rembang, Kudus dan beberapa titik lainnya di Banyumas. Banyak yang tidak bisa mengembangkan desa wisatanya,” paparnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *