Pemkot Mulai Menata Pedagang di Area Taman Indonesia Kaya

SEMARANG (Asatu.id) – Dinas Perdagangan Kota Semarang mulai menata pedagang kaki lima ( PKL) tahu gimbal dan jagung bakar di sekitar Taman Indonesia Kaya.
Penataan diawali dengan musyawarah diskusi antara Dinas Perdagangan Kota Semarang dan pedagang tahu gimbal-jagung bakar untuk mendengarkan masukan dan saran dari para pedagang.
Terkait hal itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perdagangan Kota Semarang Nurkholis mengatakan, jumlah shalter yang tersedia di kawasan Taman Indonesia Kaya berjumlah 42 shelter. Sementara pedagang saat ini berjumlah total 70 pedagang.
“Data yang ada jumlah pedagang tahu gimbal ada 46 dan pedagang jagung bakar ada 24 pedagang. Sehingga saat ini masih kami musyawarahkan dengan pedagang untuk pengaturan tempat,” katanya, Senin (29/10).
Dengan jumlah shelter dan pedagang yang tidak sebanding, Lanjut Nurkholis pihaknya tetap akan membagi dengan asas keadilan, sehingga semua pedagang yang berhak menempati kios bisa mendapatkan lapak yang sudah disediakan.
“Kita tetap gunakan asas keadilan, dimana nanti kita evaluasi. Kan ada pedagang yang punya lebih dari satu, dan juga ada pedagang yang sudah tidak aktif berjualan nanti kita evaluasi itu,” katanya.
Adapun untuk tambahan property jualan seperti meja, kursi dan spanduk diperkenankan selama jam operasional jualan. Adapun jam operasional jualan PKL mulai 16.00- 04.00.
” Harapannya, ketika nanti sudah aktif berjualan pedagang dapat mematuhi aturan yang sebelumnya sudah disepakati, seperti jam dagang dan menjaga kebersihan,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu pedagang tahu gimbal mengaku berterimakasih kepada pemerintah. Sebab, hingga saat ini pihaknya masih bisa eksis di sekitar Taman KB (Taman Indonesia Kaya).
“Ya kami berterimakasih kepada Pemerintah Kota Semarang, karena masih mengijinkan kami untuk tetap berjualan di area taman Indonesia kaya, walaupun memang kondisi shalter masih kurang untuk kami pedagang,” katanya.
Sementara terkait dengan  beberapa peraturan berjualan, misalnya mengganti piring dengan sterofoam menurutnya sedikit memberatkan.  Namun pihaknya akan tetap melakukan percobaan dengan cara tersebut.
“Kalau diaturan memang tidak boleh ada aktivitas mencuci piring. Dan kita dianjurkan untuk menggunakan sterofoam. Keberatan tapi kita nanti coba dulu,” imbuhnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *