Industri Kreatif Batik Punya Peluang Besar di Era Disrupsi

SEMARANG (Asatu.id) – Era disrupsi merupakan suatu era dimana kemajuan teknologi mulai menggantikan manusia. Misalnya pekerjaan konvensional mulai hilang dan digantikan oleh mesin ataupun teknologi berbasis internet.

Era ini sendiri dikhawatirkan akan menggerus budaya dan menghilangkan identitas bangsa sekaligus industri kreatif yang kini mulai menggeliat.

Menurut pemilik Identix Batik Tulis Indonesia, Irma Susanti menjelaskan jika industri kreatif yang berkaitan dengan budaya memiliki peluang atau potensi yang cukup besar untuk bertahan di era disrupsi.

“Karena industri kreatif punya pasar yang luas, bahkan kita bisa  menentukan pasar sendiri,” jelasnya.

Batik Identix misalnya, punya konsep batik tulis custom yang bisa disesuaikan dengan permintaan ataupun karakteristik pemakainya, serta menyesuaikan sasaran pasar termasuk melestarikan serta mengenalkan batik sebagai identitas bangsa Indonesia dikalangan genersi milenial, dengan cara melakukan inovasi dan kreasi.

“Saya menyasar pangsa pasar Jepang dengan membuat batik tulis berbentuk kimono, untuk kawasan Eropa saya padukan jas dengan batik menyesuaikan pasar yang ada dan sangat diterima dengan baik bahkan bisa dibilang Identix jadi penguasa market produk kreatif berbasis budaya di luar negeri,” ucapnya.

Menurut Irma, agar bisa terus eksis, industri kreatif harus percaya diri, dan melakukan inovasi serta terus berkembang menyesuaikan perubahan jaman.

“Salah satunya adalah membuat motif-motif jaman now yang disukai kalangan milenial,” tandasnya. (bud)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *