Ini Kisah Pertemuan KH Ubaidillah dengan Jokowi di Ponpes Al Itqon Bugen Tlogosari Semarang

SEMARANG (Asatu.id) – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melanjutkan kunjungannya di hari kedua ke pondok pesantren Al Itqon Bugen Tlogosari Semarang, Sabtu (20/1).
Kepada ribuan santri dan pengajar, pengasuh Ponpes Al Itqon KH Ubaidillah Shodaqoh berkisah kali pertama pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo. Waktu itu, Jokowi ingin meminta pertimbangan padanya sebagai ahli hukum Islam (fiqih) terkait kebijakan yang bakal dia terapkan.
KH Ubaidillah mengatakan pertemuan itu terjadi tatkala Joko Widodo masih menjabat sebagai Walikota Surakarta. Sebagai dasar untuk mengeluarkan kebijakan, Jokowi berkonsultasi dengan PCNU Surakarta yang kemudian mengarahkan kepada KH Ubaidillah Shodaqoh, yang saat itu menjadi kader Syuriah PWNU Jawa Tengah.
“Beliau sangat taat hukum. Meskipun banyak fitnah dan rintangan beliau tetap sabar tekun dan lembut dan kasih sayang terhadap rakyat,” katanya.
Dirinya didampingi sejumlah menteri kabinet kerja dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
“Baru kali ini satu-satunya bapak presiden yang berkunjung ke sini. Kenapa beliau ketika kami undang kok mau? Ya Allah jangan kuasakan pada kami pemimpin yang kasar dan kuasakan pada kami pemimpin yang lembut mencintai rakyatnya,” katanya.
Menurut KH Ubaidillah, dibalik kesuksesan sosok Jokowi hingga menjadi presiden tidak bisa terlepas dari peran perempuan yang mendampingi. Di belakang lelaki adil itu, kata KH Ubaidillah pasti ada wanita baik.
“Dibalik kejujuran dan ketokohan pak Jokowi ada yang berperan, siapa? Bu Iriana. Beliau begitu teguh dan kukuh menjalani seorang presiden, dibaliknya ada doa dan peran ibu. Maka sowan ke ibu Jokowi,” katanya.
Tentang Ponpes Al Itqon, KH Ubaidillah mengatakan di pondok ini mengajarkan tafaqquh fiddin, agar tidak menjadikan agama dan tidak dianggap sebagai ajaran-ajaran instan, tekstual dan harfiah. Yang merupakan benih-benih ekstremis.
Sementara itu Presiden Jokowi menitip pesan kepada pengajar dan santri agar terus belajar di pondok dengan telaten dan jangan cepat puas merasa telah menguasai ilmu agama.
“Mari kita bangun SDM yang berkarakter, ponpes ini membangun santri berakhlakul Karimah dan mencintai negara,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *