Gelar Acara NGOPI, Dompet Dhuafa Buka Bahasan Revolusi Pendidikan 4.0

SEMARANG (Asatu.id) –Dompet Dhuafa Pendidikan menggelar acara NGOPI (Ngobrol Pendidikan Indonesia) bertema “Revolusi Industri 4.0, Sarjana: Lahirnya Kaum Intelektual atau Hanya Menambah Pasar Manusia Terdidik” baru-baru ini.

Bertempat di Warunkomando Tebet Jakarta Selatan, acara itu dihadiri pembicara Drajat Martianto, Wakil Rektor 1 Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan; Fadli Hari Purnomo, Plant and Engineering General Manager PT. Astra Otoparts Tbk; serta Purwa Udiutomo, General Manager Sekolah Kepemimpinan Bangsa.

Para pembicara menyampaikan berbagai perspektif berkaitan dengan tema yang diangkat. Dari perspektif akademisi, Drajat menyampaikan Revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia akademisi.

“Institusi pendidikan dituntut untuk mampu menjawab tantangan perubahan zaman yang sangat cepat. Tidak hanya sekedar menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, namun kampus harus mampu menghasilkan pembelajar yang tangguh dan kreatif,” kata Drajat.

Selain itu institusi pendidikan ditantang untuk menganalisis dimensi profesi kedepan. Profesi apa saja yang mungkin muncul dan akan hilang sehingga kampus bisa menyiapkan pembelajaran yang tepat untuk menjawab tantangan zaman.

Sementara itu dari perspektif industri, Fadli Hari Purnomo yang kini menjabat General Manager Plant and Engineering PT. Astra Otoparts Tbk menyampaikan Revolusi Industri 4.0 membawa  perubahan besar karena 2 hal.

“Pertama, terkait teknologi digitalisasi manufacturing sedangkan yang kedua adalah tekanan pasar yang semakin melek teknologi. Untuk menjawab tantangan pertama, maka Industri dituntut menerapkan teknologi yang mampu merespon era revolusi industri 4.0. Dampak selanjutnya, industri ditantang untuk mencari SDM yang siap menjawab kebutuhan industri berbasis ICT dan pasar yang melek teknologi” jelas Fadli.

Purwo Udi Utomo menambahkan, General Manager Sekolah Kepemimpinan Bangsa Dompet Dhuafa Pendidikan menyampaikan Revolusi Industri 4.0 menjadikan maraknya mahasiswa yang menjadi entrepreneur. Kondisi ini bisa mengubah status ekonomi mahasiswa dengan cepat. Selain itu beliau menyampaikan tentang pengaruh teknologi terhadap gerakan mahasiswa.

“Sebuah gerakan sosial yang digalang oleh aktivis BAKTI NUSA, salah satu program beasiswa yang dikelola Dompet Dhuafa Pendidikan ketika  tergerakkan untuk memperbaiki sekolah rusak dapat berjalan secara mengagumkan. Bermodal sosial media, dalam waktu 2 bulan sudah ada tindak lanjut perbaikan dari pemerintah. Bandingkan dengan beberapa tahun lalu, dimana ratusan aktivis melakukan aspirasi dijalan-jalan namun tidak ada perubahan sama sekali,” jelasnya.

Purwo kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang tantangan di era revolusi industri 4.0. “Pertama, paradigma SDM pengelola pendidikan dimana ada gap usia antara pemegang kebijakan dengan mahasiswa. Kedua, harus dipastikan ada hal penting yang tetap dipegang teguh meskipun ditengah perubahan, yaitu integritas,” imbuhnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *