Ibu Hamil Berisiko Tinggi di Jateng Capai 124.276 Orang

SEMARANG (Asatu.id) – Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah, pada 2017 jumlah ibu hamil mencapai 596.349 orang. Dari jumlah tersebut, ibu hamil berisiko tinggi sebanyak 20 persen atau 124.276 orang.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada acara Pertemuan Steering Committe untuk Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Bayi Baru Lahir di Jawa Tengah, di Wisma Perdamaian Semarang, Selasa (9/10).

“Kita cari relawan sekitar 180.000 orang. Kita harapkan kalau itu didampingi, ceknya rutin, bagaimana asupan gizinya, kondisi hariannya, diantarkan ditungguin sampai dia melahirkan. Kalau sampai dia melahirkan mereka ditunggui, insya Allah ini bisa mengurangi risiko kematian yang ada,” beber mantan anggota DPR RI ini.

Dengan pendampingan, kata gubernur, kalau ditemui kendala di lapangan dapat segera diatasi. Misalnya, jika ibu hamil dengan risiko tinggi tinggal di desa yang jauh dari remote area, dia perlu nginep dan standby. Sehingga relawan pendamping tersebut bisa memberi masukan agar dekat dengan pelayanan.

“Atau jika menghendaki pelayanan yang lebih bagus atau dokter lebih bagus, ya sudah ditaruh di rumah singgah. Dipaksa diedukasi agar mereka nyaman. Yang penting mereka selamat,” ungkap Ganjar.

Meskipun saat ini kontributor terbesar program one student one client berasal dari kampus, menurutnya tidak menutup kemungkinan kontribusi dari berbagai pihak.

“Ormas agama akan masuk. Nanti kita dorong dari PKK, posyandu, banyaklah. 180 ribu orang (pendamping) tidaklah banyak jika dibanding 35 juta orang warga Jateng. Tentu banyak orang yang peduli soal ini,” katanya.

Menanggapi tawaran dari Ganjar, salah satu peserta forum dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Udinus, MG Catur Yuantari mengaku siap mengerahkan mahasiswa sebagai relawan. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *