Kurangi Angka Golput, Hendi Terapkan Pemerataan Pembangunan

SEMARANG (Asatu.id) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan kelemahan intelektual politik dan etika politik bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat miskin dan kurang terdidik saja. Edukasi politik semestinya juga bagi segenap masyarakat tingkat bawah sampai tingkat atas.

Hal ini dikatakannya saat menghadiri kegiatan Panggung Civil Membangun Indonesia Lebih Baik bertema “Kick Off Pemilu Raya 2019, Rakyat Memilih Untuk Apa? di Patrajasa Hotel & Convention Semarang, Selasa (25/9).

“Faktanya seluruh masyarakat yang tidak tersentuh pembangunan pun memiliki potensi karakter politik yang lemah. Maka ini harus dilihat dari hulunya jangan hilirnya saja. Politik ini tentang take and give,” ungkapnya

Wali Kota yang akrab disapa Hendi ini menuturkan pemerataan pembangunan adalah komitmen Pemerintah Kota Semarang mempengaruhi angka golput yang semakin kecil di Kota Semarang.

“Kita harus pikirkan juga tanggal 17 April 2019 itu adalah harpitnas atau kecepit nasional. Jangan sampai partisipasi pemilihnya berkurang, jadi perlu edukasi mulai dari sekarang agar partisipasi meningkat,” pungkasnya.

Hendi mengungkapkan cara menarik simpati pemilih juga sangat diperlukan oleh para politisi. Yakni dengan melihat track record atau rekam jejak apa saja yang sudah dilakukan. Konsepnya harus bergerak bersama supaya pemilu lebih kondusif dan damai.

“Ini merupakan momentum berkompetisi mencari simpati. Mari berlomba-lomba mencari simpati tanpa menyinggung SARA dan ujaran kebencian dalam berkampanye. Konsepnya harus bersama agar pemilu berjalan dengan kondusif jangan seperti perang, tapi ini adalah kompetisi dalam bersimpati agar pelaksanaannya asyik,” pungkasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *