Kendengsidialit Gelar Kirab Seribu Ingkung

FOTO: Humas Pemprov Jateng.doc

SEMARANG (Asatu.id) – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir dalam Gelar Budaya Desa Kendengsidialit, Welahan Jepara, Kamis (20/9).

Acara yang berlangsung 13 – 27 September 2018 tersebut menyajikan beragam kebudayaan, salah satunya kirab seribu ingkung.
Gelar kebudayaan tersebut diadakan sebagai wujud syukur masyarakat setempat atas karunia kesejahteraan yang dirasa, utamanya dari sektor pertanian. Ganjar mengaku senang bisa menjadi salah satu saksi bagi warga yang tengah mensyukuri nikmat.
“Desa Kendengsidialit ini istimewa, dalam satu tahun bisa tiga kali masa panen,” kata nya
Kesuksesan sektor pertanian di Kendengsidialit tersebut tidak terlepas dari upaya masyarakat untuk mengembangkan dan menjaga sistem irigasi yang baik. Ganjar berharap dengan kearifan tersebut, masyarakat tetap menjalani hidup dengan sahaja.
“Yang cukup-cukup saja, jangan berlebihan. Agar semakin membawa hidup kita berkah,” ujarnya
Dalam gelar budaya desa Kendengsidialit tersebut terdapat beragam rangkaian acara, dari napak tilas makam dan situs desa. Sowan sesepuh desa, kirab seribu ingkung sampai pasar rakyat.
Selain karangtaruna dan para seniman, acara tersebut juga disengkuyung petani dan ibu-ibu perkumpulan yasinan. Pelibatan seluruh kelompok masyarakat tersebut tidak terlepas dari impian warga yang ingin membentuk Kendengsidialit sebagai desa wisata.
Petinggi Kendengsidialit Kahono mengatakan bahwa ini merupakan acara perdana, jika melihat antusiasme warga akan kami gelar rutin setiap tahun.
“Terlebih semua sepakat untuk membentuk Kendengsidialit sebagai desa wisata,” pungkasnya.
Jika melihat potensi, lanjut dia, Kendengsidialit memiliki pemandangan yang eksotis. Selain hamparan sawah dan bentangan sungai, di desa Kendengsidialit kita akan dimanjakan dengan pemandangan rumah-rumah warga yang dihiasi dengan genteng kerpus wuwungan khas Jepara baik itu rumah tradisional, rumah minimalis, maupun juga rumah modern.
Selain itu masyarakat di desa ini mayoritas berprofesi sebagai pengrajin kerajinan anyaman nambu. Barang produksinya, antara lain Besek. Selain tu, desa ini juga berpotensi sebagai penghasil tusuk sate yg dibuat secara manual.
“Sebagai salah satu ciri khas di sini juga terdapat pertanian mangga,” tandasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *