Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang Simulasikan PKD

SEMARANG (Asatu.id) – Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang melaksanakan kegiatan Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) di Terminal Baru Bandara Ahmad Yani Semarang, Kamis (20/9) malam. Latihan yang merupakan pertama kalinya itu dimaksudkan untuk melatih dan menguji kemampuan personel ketika terjadi keadaan darurat.

“PKD kali ini sengaja dilakukan pada malam hari guna melatih kesigapan para personel serta kesiapan peralatan pendukung, mengingat kejadian darurat dapat terjadi kapan pun juga,” ujar Direktur Operasi PT Angkasa Pura I (Persero) Wendo Asrul Rose.

Ada tiga simulasi dalam latihan PKD ini, meliputi latihan penanganan kebakaran gedung (fire building exercise), latihan penanganan ancaman keamanan bandara (aviation security exercise) dan latihan penanganan kecelakaan pesawat udara (aircraft accident exercise).

Fire building exercise dilakukan simulasi kebakaran di lantai atas gedung terminal penumpang Bandara Jenderal Ahmad Yani, sedangkan dalam aircraft accident exercise disimulasikan kecelakaan pesawat bernama Srigunting Air yang terjadi di ujung landas pacu 31 Bandara Jenderal Ahmad Yani. Digambarkan bahwa kecelakaan tersebut mengakibatkan 86 korban, dengan 69 korban luka-luka dan 17 lainnya meninggal.

Dalam kegiatan PKD ini, fungsi koordinasi, komunikasi, komando dan sinkronisasi antarunit serta instansi akan dilatih dan diuji sesuai dengan Dokumen Penanggulangan Keadaan Darurat Bandar Udara (Airport Emergency Plant Document), Dokumen Program Keamanan Bandar Udara (Airport Security Programme Document), dan Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku di bandara.

“Suasana simulasi dirancang sedemikian rupa seperti kondisi nyata. Baik korban jiwa, korban luka, api dan semua kondisi darurat yang terjadi ditangani sesuai dengan pedoman AEP Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang,” imbuh Wendo.

Sementara itu dalam latihan PKD ini tidak hanya menguji penanganan saat kejadian darurat, tetapi juga melatih penanganan pascakejadian, seperti penanganan terhadap keluarga korban melalui simulasi greeters & meeters dan penanganan terhadap media melalui simulasi kegiatan media handling.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *