Jumlah Pemilih Dicoret Versi KPU dan Parpol Berbeda, Ini Penyebabnya

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah, Joko Purnomo mengakui, jumlah pemilih yang dicoret dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) lebih sedikit dibanding masukan atau hasil temuan Parpol.

Joko menengarai penyebabnya, yaitu karena Parpol menggunakan Daftar Pemilih Sementara (DPS) sebagai basis data pencermatan. Sementara KPU dan jajarannya memakai DPT awal atau DPT sebelum hasil perbaikan.

“Tapi prinsipnya kami siap menerima up date data setiap waktu secara periodik sampai jelang pemungutan. Nanti kami selesaikan bersama di Forum Koordinasi Pemutakhiran Data Pemilih yang dibentuk hari ini,” kata Joko Purnomo, usai pleno penetapan DPT hasil perbaikan di Semarang, Jumat (14/9).

Joko menegaskan, DPT hasil perbaikan akan menjadi pegangan awal pihaknya untuk mengoreksi data pemilih yang ada di dalam sistem informasi data pemilih (Sidalih). Sehingga yang bisa dilihat publik nanti bisa sama, karena sampai hari ini proses untuk Sidalih belum selesai.

“Selain itu, DPT hasil perbaikan juga menjadi patokan KPU dalam melakukan pengelolaan data pindah pemilih. Begitu dia pindah maka langsung kami coret di daftar awalnya,” tegas Joko.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah (Jateng) menetapkan 27.395.415 pemilih masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) hasil perbaikan untuk Pemilu 2019. Jumlah itu menurun 34.854 pemilih jika dibanding DPT awal sebanyak 27.430.269.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *