Brayo jadi Pengganti Sayur Sekaligus Inovasi Makanan

SEMARANG (Asatu.id) – Brayo, salah satu jenis mangrove yang selama ini kita tahu memiliki fungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi, ternyata berfungsi pula untuk meningkatkan perekonimian.

Hal itulah yang dimanfaatkan oleh Ifa Fatmawati, salah satu warga Dusun Tambak Sari, Desa Bedono, Demak yang berinovasi menjadikan tanaman dengan nama latin Vicennia Marina itu sebagai camilan khas Tambak Sari.

Ada beberapa produk camilan yang dihasilkan dari jenis tanaman bakau itu, meliputi kripik brayo, warneng brayo dan roti brayo. Produk dihasilkan baik dari daun maupun buah brayo.

“Kalau roti dan warneng ini kami buat dari buahnya. Kalau kripik dari daunnya yang pucuk,” ujar Ifa.

Ifa menjelaskan, di balik inovasi-inovasi camilan itu ternyata ada sebuah peristiwa saat dusunnya terjebak abrasi. Salah satunya adalah abrasi terparah yang menenggelamkan dua dusun di Desa Bedono, Demak tahun 2006 lalu. Lenyapnya rumah-rumah yang membuat sekitar 250 KK dipindahkan hingga terputusnya akses jalan membuat warga dusun itu harus mencari cara untuk bertahan hidup.

“Dulu itu jalurnya putus, gak ada akses gak ada sayuran jadi sumber makanan dari sini. Pas lagi krisis apa ya yang bisa dimanfaatkan, daun bayam bisa dibuat kripik siapa tahu brayo juga bisa dibuat kripik,” terang dia.

Ia melanjutkan, sebelumnya daun brayo ini banyak dimanfaatkan masyarakat setempat untuk membuat bothok. Namun lantaran pohon tersebut berbuah hanya setahun sekali, ia menyayangkan jika untuk makanan hanya mengandalkan bijinya saja.

“Tahunya dulu daun brayo untuk sayur. Kalau bijinya cuma diparuti kelapa saja. Terus kita berinovasi karena berbuahnya setahun sekali, masak buat itu aja. nah saya buat roti,” tambah dia.

Saat ini, camilan brayo “Soponyono” buatan Ifa dan keluarganya itu menjadi produk khas Dusun Tambak Sari. Ifa mengaku dalam sehari dapat memproduksi sekitar 100 bungkus kripik brayo dengan harga seribu rupiah per/bungkusnya.

Selain harganya yang murah dengan rasa yang enak, Ifa mengaku banyak yang menawarkan untuk kerjasama. Namun saat ini tawaran tersebut ia tolak lantaran seringkali kewalahan jika bertepatan dengan banyak pembeli. Ditambah lagi, saat musim kemarau seperti sekarang ini membuat produksi cemilannya semakin berkurang lantaran sedikitnya bahan.

“Kalau dulu produksinya lumayan, tapi sekarang sedang musim kemarau jadi jarang produksi. Di sini juga produksinya nelat. Kalau ramai sehari bisa jual banyak karena seorang bisa beli 50 bungkus kalau dikalikan berapa bus kan lumayan,” terangnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *