Stilisasi Motif dari Makanan Khas Daerah Jadi Cara Perkenalkan Batik Secara Estetis dan Filosofis

SEMARANG (Asatu.id) – Sejak diakui UNESCO sebagai warisan dunia asal Indonesia Tahun 2009 lalu, tampaknya banyak masyarakat yang semakin sadar akan kepemilikan batik. Euforia memakai batik pun semakin merata di semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orang tua. Batik seolah menjadi hal wajib yang harus dimiliki sebagai bukti cinta akan budaya.

Tidak sekadar euforia memiliki batik, Noor Tiara Habib Aisyah Intan mahasiswa Seni Rupa Unnes yang baru-baru ini melangsungkan pameran di Gedung B9 justru ingin memperkenalkan batik dari segi estetis dan filosofis. Melalui goresan canting, ia stilisasikan motif kuliner Daerah Grobogan dalam tajuk “Penciptaan Batik Terapan dengan Inspirasi Motif Kekayaan Kuliner Grobogan”.

“Namanya aja unik, kayaknya unik juga kalau dibuat motif batik. Ini sekaligus untuk memperkenalkan batik. Jadi nggak cuma ke mana-mana pakai batik tapi nggak tahu apa itu batik, tapi saya ingin lebih memperkenalkan salah satu budaya ini,” kata dari Jurusan Fisika itu saat ditanya alasan memilih motif kuliner Grobogan untuk proyek studi.

Sekiranya ada 10 karya dengan 10 macam kuliner yang berhasil ia tuangkan dalam lembaran-lembaran kain primisima, meliputi brambang asem, sayur lompong, garang asem, nasi jagung, sego pager godong, pecel gambringan, ayam pencok, botok yuyu, becek dan mie tek-tek. Semua itu merupakan kuliner khas daerah yang akhir-akhir ini menjadi sorotan prestasi atlet di ajang Asian Games 2018 itu.

“yang paling khas dari sepuluh kuliner ini adalah nasi jagung, becek, ayam pencok sama botok yuyu,” imbuhnya.

Tiara melanjutkan, ada filosofi tersendiri di masing-masing kuliner khas Grobogan baik dari segi nama maupun peristiwa. Semua itu semakin menonjolkan keistimewaan daerah tempat ia tinggal.

“Misalnya untuk motif nasi jagung, ada sejarah krisis makanan di Purwodadi. Saat itu terjadi paceklik, masyarakat banyak yang tidak bisa makan akhirnya mengganti beras dengan jagung. Kebetulan di Purwodadi merupakan daaerah penghasil jagung. Ada juga ‘pecel gambringan’, itu unik, hanya ada setiap pagi di Stasiun Gambringan,” jelas panggilan akrab Tiara itu.

Keunikan-keunikan tersebut ia mengaku banyak yang tertarik dengan karyanya. Bahkan, ia menjelaskan, ada salah satu motif yakni nasi jagung yang diminta pihak Jurusan untuk dijadikan sebagai koleksi.

Hal itu membuatnya semakin yakin kuliner Grobogan patut ia perkenalkan kepada masyarakat luas, ditambah lagi saat sudah ada pemerintah setempat yang tertarik untuk menjadikan batiknya sebagai ikon Grobogan.

“Saat ini sudah ada dari pemerintah setempat menawarkan salah satu batik saya untuk dijadikan ikon Grobogan. Tapi itu perlu kita komunikasikan lebih lanjut lagi. Yang jelas saya buat batik untuk Grobogan, untuk kebudayaannya dan untuk melestarikan batiknya. Misal diberi amanah saya akan bawa batik grobogan lebih baik dari yang sekarang agar lebih terkenal,” imbuhnya. (bud)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *