GP Ansor Minta Pemerintah Beri Perhatian Ekstra atas Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

SEMARANG (Asatu.id) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah diprediksi sebelumnya. Kondisi ini terpantau dari ekspektasi pasar terhadap kenaikan bunga acuan bank sentral AS, Fed Fund Rate (FFR) yang naik beberapa kali. Situasi ini diperburuk dengan adanya permasalahan perang dagang AS dan Tiongkok.

“Sayangnya pelemahan rupiah terkesan terlambat diantisipasi pemerintah,” kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas pada siaran persnya,  di Semarang, Kamis (6/9).

Kendati demikian, Yaqut mengapresiasi rencana pemerintah untuk mengambil sejumlah langkah antisipasi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah sebagaimana disampaikan Presiden Joko Widodo.

“Sudah semestinya pemerintah memberi perhatian ekstra terhadap terpuruknya rupiah dan segera mengambil langkah-langkah penanganan secara tepat dan mencari solusi yang benar-benar solutif,” ujarnya.

Dari kaca mata GP Ansor, kata Yaqut, ada hal yang harus menjadi landasan pemerintah dalam mencari solusi atas krisis ini.

Pertama, industrializing industry, yakni industri yang melahirkan industri lagi seperti membuat mesin, teknologi informasi. “Jangan hanya fokus pada industri yang membuat produk habis pakai saja,” paparnya.

Kedua, lanjut dia, adalah export promotion. Industri-industri unggulan dan produk-produk unggulan harus menjadi prioritas untuk diekspor. Jika diperlukan, pemerintah harus melakukan promosi besar-besar terhadap produk yang laku dan layak dijual di luar negeri.

Ketiga, menurut Yaqut, adalah import substitution, yaitu melakukan pemetaan mana produk-produk impor yang bisa disubstitusi, mana yang tidak bisa dengan melihat kapasitas industrinya.

“Dulu, Indonesia perlu menjual pesawat Nurtanio untuk ditukar dengan beras. Terhadap produk seperti ini kalau perlu pemerintah kasih insentif. Tapi jika belum bisa disubstitusi, maka harus mempertimbangkan substitusi impornya dalam konteks global supply chain,” paparnya.
Menurut dia, masalah Indonesia yang harus diselesaikan adalah masalah ekonomi dulu daripada menjaga citra pemerintah saja.

“Saya lihat di media sosial banyak narasi yang kontraproduktif dari netizen. Misalnya, membandingkan kondisi pelemahan kurs saat ini dengan kondisi pemerintahan sebelumnya. Ini justru tidak menguntungkan pemerintah. Atau imbauan-imbauan ‘Bantu pemerintah demi rupiah, tunda jalan-jalan ke luar negeri, beli produk lokal, tunda beli barang-barang mewah, pakai transportasi publik, dan lainnya’,” ujarnya.

Menurut Gus Yaqut, sudah semestinya tugas mengatasi gejolak rupiah itu pemerintah. Rakyat hanya membantu. “Jangan jadikan rakyat yang hanya bersifat membantu kemudian menjadi aktor utama dalam penyelesaian pelemahan rupiah,” tandasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *