Hidup Tanpa Seni Ibarat Makan Sayur Tanpa Garam

SEMARANG (Asatu.id) – “Hidup tanpa seni ibarat sayur tanpa garam,” hal tersebut dikatakan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam sambutannya ketika menghadiri pembukaan helatan Pazaar Seni #5 yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Jumat (31/8).

Kegiatan yang sudah kali kelima digelar oleh Dewan Kesenian Semarang ini mengusung tema spirit perjuangan seorang seniman tradisi Ki Narto Sabdo bertajuk Freeformaction.

Pada rangkaian hari pertama pembukaan Pazaar Seni #5 ini terbukti mengundang banyak antusiasme baik dari pengunjung maupung stakeholder terkait bentuk dukungan dalam perkembangan dunia seni di Kota Semarang.

Pasalnya harapan dari spirit Ki Narto Sabdo sendiri diusung selaras dengan semangat para pelaku seni di Kota Semarang untuk bisa terus berkarya dan menghasilkan kreasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengaku menyempatkan hadir dalam gelaran ini karena ketertarikannya pada dunia seni. Dirinya menyambut baik kegiatan Pazaar Seni ini lantaran mampu mewadahi dan memfasilitasi para pelaku seni di Kota Semarang untuk dapat berkembang terutama dalam hal perekonomian dan kemajuan seni di Kota Semarang.

“Kegiatan Pazaar Seni #5 ini merupakan kontribusi yang sangat luar biasa untuk Kota Semarang dari sektor seni dan budaya. Terlihat dari konsep bergerak bersama yang telah dilakukan Dekase dengan bergotong royong menggelar kegiatan ini” ujarnya.

Wali Kota yang akrab disapa Hendi ini berharap kegiatan Pazaar Seni ini akan terus konsisten, sehingga dapat mendorong kreatifitas para pelaku seni supaya Kota Semarang tidak hanya kokoh dalam infrastrukturnya namun juga kokoh dari seni dan budayanya.

“Harapannya dari sisi kegiatan harus tetap continue digelar setiap tahun dan hal ini sudah dibuktikan oleh mas Handry TM (Ketua Dekase) dan teman-teman Dekase untuk membuat acara ini rutin selama 5 kali berturut-turut. Inilah yang dinamakan konsep bergerak bersama,”ungkapnya.

Dalam kesempatan ini Hendi menyerahkan penghargaan secara simbolis kepada pelaku seni yang sudah banyak menghasilkan karya-karya luar biasa untuk Kota Semarang.

Penghargaan tersebut diberikan kepada perupa Atie Krisna, Mantan Ketua Dekase sekaligus Akademisi Undip Mulyo Hadi Purnomo, dan Sejarawan, Penulis Buku Semarang Tempo Doeloe Alm. Amen Budiman dalam hal ini diwakilkan oleh istrinya.

Acara tersebut juga dimeriahkan pula oleh penampilan akustik dari Gunung N Friends kemudian dilanjutkan dengan lomba mewarnai anak. (bud)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *