Peran Asosiasi Akumandiri Jateng Tingkatkan Kapasitas Pelaku Industri Kreatif

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Akumandiri Jawa Tengah Madiyo Sriyanto mengatakan peran Asosiasi Akumandiri Jateng dalam pengembangan ekonomi di industri kreatif adalah membantu menjembatani komunikasi antara para pelaku usaha dengan pemerintahan.
“Peran asosiasi ini sebagai penjembatan komunikasi banyak hal baik kebutuhan dalam bidang pemasaran maupun pendanaan, selain itu mendorong peningkatan kapasitas dari pelaku industri kreatif,” ujarnya saat menjadi narasumber talkshow interaktif bertajuk Kopiwriting yang digelar oleh JNE Express di Altitude Lounge, Hotel Aston Inn Pandanaran, Semarang, Rabu (29/8).
Madiyo menuturkan peningkatan kapasitas para pelaku industri kreatif ini antara lain dengan mengadakan pelatihan-pelatihan usaha tentang internet marketing, branding, packaging
termasuk membuat laporan keuangan sederhana. Selain itu juga mengajak para pelaku industri kreatif untuk bisa ikut pameran secara gratis.
“Hal ini dilakukan karena iklim perkembangan industri kreatif di Kota Semarang sangat menarik. Terlebih adanya kepedulian dari Pemerintah Kota Semarang terhadap lima sektor unggulan yakni fashion, kuliner, pakaian jadi, kerajinan tangan dan periklanan,” pungkasnya.
Sementara terkait tantangan industri kreatif di Kota Semarang, dirinya menjelaskan bahwa untuk pelaku usaha baru problemnya adalah pemasaran dan pendanaan. Sedangkan untuk pelaku usaha bianis menengah biasanya adalah masalah pelaporan pajak.
“Untuk itu, Asosiasi Akumandiri juga mengadakan program pendampingan pembiayaan bagi para pelaku usaha yang terdaftar dalam asosiasi. Kami bekerjasama dengan PT. Telkom Indonesia, Bank Jateng dan Bank Artha Graha. Selain itu untuk pemasarannya kami bersama Disperindag dan Dinas Koperasi menyelenggarakan pameran baik di dalam kota, luar kota ataupun luar negeri,” ungkapnya.
Madiyo menambahkan pihaknya akan bekerjasama dengan Kemenkumham mengadakan program pelatihan bagi para penghuni lapas yang direhabilitasi non medis seperti menjahit, sablon dan banyak lagi.
“Harapannya setelah keluar dari lapas mereka lebih produktif lagi. Yang sudah berjalan contohnya lapas bulu,” tandasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *