Tiga Bulan Dilanda Kekeringan, BPBD Droping Air Bersih untuk Warga Kelurahan Rowosari

SEMARANG (Asatu.id) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang melakukan droping air bersih untuk warga Rowosari RT 4 RW 9, Selasa (21/8). Droping air bersih itu dilakukan sebagai wujud bantuan kepada warga yang mengalami kekeringan hampir tiga bulan terakhir ini.

So’im, Kasie Rehabilitasi, Koordinasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang mengatakan, kekeringan di Kelurahan Rowosari bukan pertama kalinya, melainkan langganan setiap musim kemarau. Ia membeberkan, setidaknya satu atau dua tangki air dengan kapasitas 4000 liter dalam satu minggu dikucurkan untuk membantu bencana kekeringan yang melanda sekitar 50 KK itu.

“Untuk sementara di rowosari ini kami satu minggu satu sampai dua tangki karena sebetulnya masih kurang. Ini kapasitasnya 4.000 liter, sedangkan ini 5.000 liter barangkali masyarakat sambil jalan nanti untuk diupayakan selang atau ember. Tapi saya berharap nanti isinya tidak harus semuanya ember seperti ini,” ujarnya.

Sebelumnya, So’im mengatakan, Pemerintah Kota Semarang telah mengupayakan untuk membuatkan sumur artesis bagi warga Kelurahan Rowosari. Namun ia mengaku hal tersebut belum berhasil terkhusus RT 4 karena wilayah kurang sesuai dengan instalasi tersebut.

“Tahun lalu, Pemerintah Kota sudah membuat sumur artetis berkaitan dengan sebelum PDAM masuk, dua RT, RT 4 dan RT 5 di RW 9. tetapi ternyata di wilayah ini apabila dibor dengan kedalaman tertentu keluarnya tidak air, tapi gas. Sekarang tinggal RT 4,” tuturnya.

Di menjelaskan, pihaknya kini teleh mengomunikasikan kembali dengan PDAM berkait dengan upaya agar air dapat sampai kepada masyarakat. Ia berharap akan ada solusi yang lebih efektif untuk menyalurkan bantuan air bersih khususnya untuk warga yang sedang dilanda krisis air bersih itu.

“Setelah kami konfirmasi dengan PDAM, dalam kurun waktu yang relatif pendek barangkali kita upayakan pompa untuk membantu untuk membantu menurunkan ke sana. Ini pun bergantung kepada masyarakat, karena bisa saja fasilitas PDAM itu ada untuk disambungkan tetapi masyarakatnya yang tidak mau, kita yang tidak bisa memaksa. Sekiranya kami berharap tidak ingin adanya bantuan air yang sifatnya ember-ember semacam ini, karena menurut saya ini tidak efektif,” tungkasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *