Pedagang Hewan Kurban Tidak Gubris Larangan Dinas Pertanian

SEMARANG (Asatu.id) – Imbauan Dinas Pertanian Kota Semarang terkait dengan larangan pedagang hewan kurban menjual yang tidak layak tidak dihiraukan para pedagang hewan kurban di Kota Semarang. Mereka mengklaim memiliki dasar hukum yang kuat dan sudah berpengalaman dalam jual beli hewan kurban.

Dalam sidak yang dilakukan Dinas Pertanian Kota Semarang, beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang WP Rusdiana mengimbau pedagang untuk tidak menjual kambing yang belum berumur dua tahun atau giginya belum poel. Selain itu kambing yang tanduknya patah atau rusak.

Sementara salah seorang pedagang, Muhammad Zaenuri mengatakan, sudah berpengalaman dalam hal jual beli hewan kurban. Dan sudah mengetahui ketentuan-ketentuan dalam agama terkait hewan yang layak untuk dijadikan hewan kurban.

“Sudah paham dengan ketentuan-ketentuan dibolehkan dan tidaknya hewan untuk dijadikan sebagai hewan kurban. Kalau saya prinsipnya, ada dua pendapat, yaitu menurut hadist dan ilmu fiqh. Kalau menurut hadist yang penting cukup umur, tidak ada penjelasan mengenai poel. Tapi kalau dalam ilmu fiqh, itu memang diterangkan untuk hewan kurban harus berumur dua tahun atau giginya sudah poel,” katanya, Minggu (19/8).

Selain itu, Menurutnya, imbauan untuk tidak menjual kambing yang memiliki tanduk patah, tidak sepenuhnya dapat diterima. Menurutnya, kambing yang memiliki tanduk patah masih bisa dijadikan hewan kurban, asal patahnya tidak sampai ke bagian pangkal atau terluka dagingnya.

“Kalau di aturan cacat itu ada empat, termasuk salah satunya putus dari kulit sampai dagingnya keluar. Kalau masih putus di batang tanduknya saja itu masih bisa dijadikan kurban, tapi kalau sudah sampai daging itu baru tidak boleh,” ungkapnya.

Namun demikian, Ia menyerahkan sepenuhnya kepada pembeli yakni mengembalikan kepada kemantapan hati pembeli untuk memilih hewan kurban yang diinginkan.

“Misalnya terkait kambing poel atau tidak poel itu, kalau pembeli cari yang poel, ya kita kasih yang poel. Kalau konsumen tidak minta (harus poel) ya dikasih saja (yang belum poel). Tapi kita pasti berusaha berikan penjelasan dulu,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *