Penyakit Lupus Menjangkit 0,5% dari Total Populasi Penduduk Indonesia

SEMARANG (Asatu.id) – Angka Kejadian penyakit autoimun seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang umum dikenal dengan penyakit lupus menjangkit 0,5% dari total populasi penduduk Indonesia.

Hal itu diungkapkan Regional Marketing Laboratorium Klinik Prodia Jateng DIY, Beppy Hamuwati di seminar nasional bertajuk “Good Doctor for Better Autoimmune Treatments” di Kota Semarang, Sabtu (11/8).

Menurut Beppy, gejala penyakit autoimun sulit dikenali. Selain itu, jumlah dokter ahli penyakit tersebut pun masih sedikit di Indonesia sehingga seringkali ketika dirujuk sudah parah karena tidak dikenali sejak dini.

“Oleh karena itu kami mengadakan seminar ini di 18 kota besar di Indonesia, salah satunya di Kota Semarang. Intinya sharing informasi dengan para dokter dan mitra kerja. Harapannya para dokter dapat informasi lengkap sehingga bisa mengenali sejak dini autoimun,” katanya.

Sementara, salah satu narasumber yang hadir, dr. Nanang Sukmana, SpPD mengatakan, autoimun merupakan penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem imun yang ditandai dengan reaktivitasi sistem imun baik sel T maupun sel B (autoantibodi) melawan sel tubuh sendiri (autoantigen).

Menurutnya, penyakit autoimun belum banyak disadari masyarakat. Penelitian terkait penyakit tersebut masih jarang, karena jenis penyakit autoimun sendiri ada 80 jenis.

“Oleh karena itu sangat penting bagi para dokter untuk dapat update informasi agar para dokter dapat melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala maupun yang sudah mengalami autoimun,” katanya.

Sementara itu dr. Bantar Suntoko, SpPD-KR mengatakan, angka kejadian autoimun cukup banyak, khususnya pada wanita, tetapi kesadaran masyarakat masih rendah akan penyakit tersebut.

“Autoimun paling banyak terjadi karena genetik. Tapi saat ini telah ada penelitian yang menyatakan bahwa defisiensi atau kekurangan kadar vitamin D dalam tubuh dapat menjadi salah satu faktor resiko kena penyakit tersebut. Maka dari itu kita perlu hati-hati dan para dokter perlu tahu,” jelasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *